Bisnis Kue Putu Ayu : Pemasaran, Teknis Usaha, dan Keuangan

kue-putu-ayu-bisnisukm.id-ukm-umkm.jpg

Kue Tradisional Indonesia - Putu Ayu

BISNIS KUE PUTU AYU – Indonesia merupakan negara yang kaya akan keragaman kulinernya. Salah satu kuliner yang banyak digemari masyarakat Indonesia adalah kue. Kue yang beredar di Indonesia begitu bervariasi baik yang berupa kue tradisional maupun kue-kue modern. Kue-kue tradisional maupun kue-kue modern Indonesia sendiri terdiri dari banyak macam dan rasa.

Pada masa sekarang ini, lebih banyak kue-kue modern yang mendominasi kuliner Indonesia seperti Rainbow Cake, Cup Cake, Ombre Cake, dan lain sebagainya. Dan banyak kue-kue tradisional yang sudah jarang ditemukan, bahkan sudah tidak beredar lagi. Kue tradisional tersebut mislanya kue Lapis, kue Apem dan salah satunya adalah kue Putu Ayu.

Putu ayu merupakan salah satu kue yang banyak diminati masyarakat. Namun kini keadaannya sudah tidak sumringah lagi, akibat maraknya kue-kue modern yang telah menjamur di masyarakat. Mungkin salah satu penyebab surutnya ketenaran kue-kue tradisional adalah dari segi performa dan rasa yang kurang terinovasi. Hal tersebut tentu akan menimbulkan rasa bosan dari pihak konsumen.

Maka masyarakat Indonesia perlu mencoba untuk mengkreasikan kue Putu Ayu yang selama ini hanya memiliki tampilan tradisional  untuk dikembangkan menjadi kue yang lebih bervariasi dan lebih menarik.

Pemasaran Produk Putu Ayu

  1. Produk yang Dipasarakan : Kue Putu Ayu dengan tampilan lebih menggugah dengan alasan agar menimbulkan selera baru bagi konsumen.
  2. Sasaran Konsumen/Pembeli : Konsumen yang menjadi sasaran pemasaran produk Putu Ayu ini tidak terbatas, terhadap siapa pun yang berminat untuk mengkonsumsinya.
  3. Wilayah Pemasaran : Wilayah sekitar daerah produksi
  4. Rencana Penjualan Tahunan diperkirakan mencapai 14400 bungkus Putu Ayu.

Teknik/Produksi/Operasi Usaha

  1. Kapasitas Produksi : 50 Unit
  2. Ketersadiaan Bahan Baku : Bahan baku pembuatan Putu Ayu masih mudah didapatkan, hanya saja terkadang produsen menemui kendala seputar kenaikan harga yang dapat mempengaruhi kapasitas produksi.
  3. Fasilitas dan Sarana Produksi : Dalam produksi ini, tidak terlalu dibutuhkan fasilitas dan sarana yang lebih. Disini hanya dibutuhkan kecukupan bahan baku serta peralatan produksi yang memadai.
  4. Masa Implementasi : 1 Tahun

Keuangan

Total Pembiayaan Proyek

Biaya Variabel (1 Minggu)
·         Tepung Terigu (1kg) = Rp   8.000,-
·         Telur (0,5kg) = Rp 10.000,-
·         Gula Halus (1kg) = Rp 15.000,-
·         B. Powder & Ovalet = Rp   2.000,-
·         Garam = Rp   1.000,-
·         Kelapa = Rp   4.000,-
·         Vanili = Rp   1.000,-
·         Pewarna Makanan = Rp   2.000,-
·         Manisan Kering, dll. = Rp   5.000,-
·         Minyak Goreng = Rp   4.000,-
·         Label & Kemasan = Rp  20.000,-
·         Gas Elpiji = Rp   5.000,- +
Total Biaya Variabel = Rp 77.000,-  x 6 hari = Rp  462.000,-
Biaya Overhead    
·      Listrik = Rp  10.000,-  
·       Air = Rp    5.000,- +  
Total   = Rp   15.000,- +
Total Biaya Variabel = Rp  477.000,-
Biaya Tetap
·         Panci Kukus = Rp 100.000,-
·         Kompor = Rp 300.000,-
·         Baskom = Rp   50.000,-
·         Cetakan = Rp   10.000,-
·         Mixer = Rp 200.000,-
·         Parut Kelapa = Rp   10.000,-
·         Saring Santan = Rp   20.000,-
·         Tabung gas = Rp 150.000,- +
Total Biaya Tetap   = Rp 840.000,- +
Total Pembiayaan Proyek   = Rp 1.317.000,-

Modal Usaha

Sumber Dana    
·         Sumber Dana Pribadi   = Rp 1.317.000,-
Kebutuhan untuk mendirikan dan mengoperasikan = Rp 1.317.000,-

Rencana Penjualan per Tahun

Penjualan per Minggu
·     Produk x harga x unit = Penjualan
·     Kue x Rp 2.000,-x 300 = Rp 600.000,-
v  Bi. penjualan & distribusi = (Rp  20.000,-)
Pendapatan Kotor (Minggu) = Rp 580.000,-
Penjualan per Bulan    
·     Produk x harga x unit = Penjualan
·     Kue x Rp 2.000,-x 1200 = Rp 2.400.000,-
v  Bi. penjualan & distribusi = (Rp   80.000,- )
Pendapatan Kotor (Bulan) = Rp 2.320.000,-
Penjualan per Tahun    
·     Produk x harga x unit = Penjualan
·     Kue x Rp 2.000,-x 14400 = Rp 28.800.000,-
v  Bi. penjualan & distribusi = (Rp    960.000,-)
Pendapatan Kotor (Tahun) = Rp 27.840.000,-

Laba dalam Satu Tahun

Penjualan   = Rp 27.840.000,-
Biaya operasional   = (Rp  22.896.000,-)
Laba Bersih   = Rp   4.944.000,-

Aliran Kas Usaha

Cash In Flow    
a.    Penjualan = Rp 28.800.000,-
b.    Pinjaman Rp                 0 +
Total Cash In Flow = Rp 28.800.000,-
Cash Outflow
a.    Pembelian Barang Modal = Rp 23.736.000,-
b.    Biaya Bunga = Rp                0 +
Total Cash Out Flow   = (Rp 23.736.000,-)
Net Cash Flow   = Rp 5.064.000,-

Return On Investment (ROI)

ROI

 

ROI

= Laba bersih setelah pajak : Total aktiva x 100%

= Rp   4.944.000,- :  Rp 23.736.000,- x 100%

= 20 %

Break Even Point (BEP)

Aliran Kas (per Tahun) = Rp 5.064.000,-
Keuntungan :
Bulan 1 = Rp 2.320.000 – Rp 1.908.000
= Rp – 412.000,-
Bulan 2 = Rp 4.640.000 – Rp 3.812.000 – Rp 412.000
= Rp 416.000,-
Bulan 3 = Rp 6.960.000 – Rp 5.724.000 – Rp 412.000 + Rp 416.000
= Rp 1.240.000,- (BEP)
Tahun 1 = Rp 35.280.000 Rp  32.496.000
= Rp   2.840.000,- (BEP)
BEP (Unit) = Total Fixed Cost : (Harga Jual – Biaya Variabel)
= Rp 840.000 : (Rp 2.000 – Rp 1.590)
= 2048 Unit
BEP (Rp) = Total Fixed Cost : (Harga Jual – Biaya Variabel) x Harga Jual

= Rp 840.000 : (Rp 2.000 – Rp 1.590) x Rp 2.000

= Rp 4.096.000,-

Harapan untuk produk Putu Ayu adalah produk ini bisa lebih berkembang dan maju. Disamping itu, diharapkan agar produk makanan ini tidak berkurang, karena produk ini cukup baik untuk dikonsumsi. Selain itu, juga diharapkan agar kuliner tradisional Indonesia tidak surut dibandingkan dengan kuliner modern yang telah banyak beredar di masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top