Di Jawa Tengah Industri Kecil Garam Kesulitan Bahan Baku

Di Jawa Tengah Industri Kecil Garam Kesulitan Bahan Baku

Di Jawa Tengah Industri Kecil Garam Kesulitan Bahan Bak, Sekitar 55 persen Industri Kecil Menengah (IKM) yang memproduksi garam yodium di Jawa Teng

Saham Bank of America Di Kuasai Warren Buffett
Lima Kiat Sukses Miliarder Richard Branson
Potensi Transaksi E-commerce Capai Rp1.200 Triliun hingga 2020

Di Jawa Tengah Industri Kecil Garam Kesulitan Bahan Bak,

Sekitar 55 persen Industri Kecil Menengah (IKM) yang memproduksi garam yodium di Jawa Tengah, dipastikan bangkrut dan tak mampu beroperasi akibat gagal panen. Kegagalan terjadi mulai dari awal tahun 2017 hingga saat ini.

“Di Jawa Tengah ada sekitar 100 IKM produksi garam yodium. Namun, kondisi sekarang ini lebih dari separuhnya sekarang sudah tutup,” ucap Peneliti Balai Besar Teknologi Pencegahan Pencemaran Industri Kementerian Perindustrian RI Marihati kepada Liputan6.com, Rabu (9/8/2017).

Ia menjelaskan, bangkrutnya IKM produksi garam yodium di Jawa Tengah, juga terjadi karena menipisnya stok bahan baku garam dari para petani garam.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian RI, sentra produksi garam di Jawa Tengah hanya berada di wilayah pesisir Pantura barat hingga timur (Brebes hingga Rembang). Sedangkan produksi garam yodium sendiri dalam enam bulan belakangan ini terus merosot.

“Khusus di Jawa Tengah, yang semula produksi hingga 400 ton garam yodium per hari, saat ini hanya sekitar 150 ton saja. Jadi, stok dengan permintaan pasar tak sebanding. Makanya berpengaruh dengan harga garam yodium di pasaran yang merangkak naik hingga 300 persen,” jelas dia.

Saat ini, kata dia, harga garam yodium di tingkat produsen mencapai Rp 22.500 per 2,5 kg. Padahal, biasanya harga cuman Rp 7.000 saja per kantong berisi 2,5 kg.

“Kalau harga pasarannya lebih dari itu, inilah yang membuat masyarakat mengeluhkan mahalnya garam yodium. Apalagi masyarakat kita tingkat konsumsi garam cukup tinggi. Kalau di rata-rata per orang itu kebutuhan garam yodium sebanyak 3 kg setahun,” ungkap dia.

Satu IKM bisa mempekerjakan 10-20 orang. Artinya, dengan banyaknya industri pengolahan garam yodium yang ditutup, maka ratusan orang kehilangan pekerjaan.

Produksi Garam di Bawah Standar

Produksi Garam Yodium Di Brebes di Bawah Standar Nasional

Di sisi lain, IKM produksi garam yodium di Brebes memberi zat yodium pada garam masih di bawah standar dan juga minimnya proses pencucian garam saat produksi.

“Zat yodium pada garam di Kaliwlingi Brebes ini masih banyak yang dibawah standar. Makanya kami datang ke sini membantu mereka memberikan pelatihan, agar meningkatkan kualitasnya hingga berstandar nasional (SNI),” kata dia.

Ia menyatakan, kualitas belasan IKM produksi garam yodium di Brebes secara umum masih di bawah standar nasional.

“Seharusnya hasil produksi garam yodium yang belum SNI tak boleh dijual di pasaran meskipun kemasannya baik. Di sini rata – rata kandungan NaCL garam yodium yang masih rendah,” kata Marihati.

Bahkan, hasil uji laboratarium ditemukan, produksi garam IKM Brebes yang dijual untuk dikonsumsi masyarakat, tidak memenuhi standar SNI. “Karena kandungan garam yodium yang kurang 30 ppm,” kata dia.

Ia pun memberikan pengarahan kepada pelaku IKM garam yodium agar memperhatikan sertifikat Standar Nasional Indonesia (SNI). Selain itu, juga proses produksi garam yang memenuhi standar operasional prosedur.

“Karena bahaya produksi garam yang tidak sesuai standar akan berdampak pada aspek kesehatan masyarakat, terutama anak-anak, karena dalam masa pertumbuhan sangat membutuhkan garam beryodium,” bebernya.

Sementara itu, akibat Kelangkaan garam dalam beberapa hari ini tidak kurang dari 2 ton ikan hasil tangkapan nelayan pantura mulai membusuk akibat sulitnya mendapatkan bahan tersebut sebagai pengawetan ikan.

“Untuk pengawetan sebenarnya bisa menggunakan formalin, tapi untuk dikonsumsi masyarakat dampaknya berbahaya,” ucap Darmo (40) seorang nelayan di Tegal.

Pompa kincir angin mulai bekerja mengisi ribuan liter air dengan kandungan mineral garam ke puluhan petak tambak-tambak garam. Sudah hampir satu tahun tambak garam di Sidoarj, Jawa Timur tak bergeliat seperti saat ini dan cenderung mati suri.

La Nina, fenomena perubahan iklim membuat petani garam tradisional harus merasakan gagal panen di tahun 2016. Kini semuanya berakhir. Cuaca yang kembali normal membawa harapan besar bagi petani garam lokal.

 

Syafiudin adalah satu dari ribuan mantong sebutan petani penggarap garam. Bagi Syafiudin bergelut dengan garam sudah dilakoni hampir separuh dari hidupnya dan tahun ini merupakan musim kebangkitan awal panen raya para petani garam lokal.

Di Tahun 2016 produksi garam anjlok hingga 96 persen atau hanya mampu memproduksi 118 ribu ton dibandingkan tahun sebelumnya yang bisa tembus diangka 2, 9 juta ton.

Walau terjadi kelangkaan stok garam akibat gagal panen di tahun lalu, justru ini yang membuat para petani garam naik derajat. Umur masa panen pun dipangkas yang biasanya 12 hari menjadi hanya 5-6 hari. Mengejar banyaknya permintaan pasar dan memanfaatkan momentum harga yang cenderung tinggi.

Haji Azis, merupakan satu dari sekian banyak pengepul garam rakyat yang paham betul pahit manisnya bisnis garam. Puluhan tahun berbisnis garam baru kali ini dirinya diatas angin.

Jumini, satu dari sekian banyak pengusaha pengolahan ikan asin kelabakan akibat kelangkaan garam yang terjadi. Pembatasan stok garam dan harga yang tinggi per karungnya membuat produksi ikan asin miliknya turun hingga 50 persen.

Simalakama, mungkin ini gambaran yang terjadi pada fase kebangkitan produksi garam rakyat saat ini. Satu sisi kelangkaan garam mencekik sektor usaha yang menggunakan garam namun di sisi lain petani diuntungkan dengan fenomena ini.

Data dari Kementerian Perindustrian Tahun 2015 penggunaan garam di Indonesia, 46 persen didominasi untuk keperluan industri kimia.18 persen untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga serta sisanya untuk kebutuhan industri aneka pangan dan pengasinan.

Kebutuhan garam skala nasional memang terbilang cukup besar jika dilihat dari data ini. Angkanya cenderung tidak berimbang antara kebutuhan garam per tahunnya dengan jumlah produksi yang dihasilkan.

Impor garam jadi salah satu langkah yang dianggap tepat mencukupi kebutuhan garam secara nasional. Walau dirasa kurang bijaksana di tengah musim panen yang sedang berlangsung.

 

 

COMMENTS