Mantan Premen Sekarang Juragan

Pak Kaiman Mantan Preman sekarang jadi jugan jamur tiram, Meski sebelumnya tidak memiliki pengalaman dan kapasitas pengetahuan tentang budidaya jamur tiram, namun kekurangan tersebut tidak menyurutkan Pak Kaiman (56), untuk merambah usaha ini. Berbekal keyakinan dan tekad untuk lebih baik, kini ia sudah terbilang sukses.

Dengan rasa bersyukur pada setiap detik kehidupannya saat ini. Pak Kaiman kelahiran Pasuruan, 17 Agustus 1960 memilih bertobat dan meninggalkan dunia hitam sejak tahun 2000. Konon, ulah negatif tersebut berasal dari tuntutan hidup setelah krisis moneter melanda Republik Indonesia.

Membangun satu demi satu langkah guna mengemas masa depan yang lebih baik. Produsen jamur tiram dari Jawa Timur ini memang hanya memerlukan waktu selama 3 tahun untuk bisa dikatakan ‘Profesor’ pada bidangnya. Padahal dirinya hanyalah anak desa yang sempat menempuh pendidikan tertinggi sampai kelas 5 SD (Sekolah Dasar). Sungguh bukti perjalanan karir yang dapat dikatakan brilian.

Apapun ia lakukan hanya untuk sesuap nasi.

Dikutip dari laman kertasbiasa.blogspot. Sejak muda, Pak Kaiman memang seorang pekerja keras. Memilih pekerjaan sebagai kernet di tahun 1980, pria yang saat itu masih berusia 19 tahun menjaani awal kisahnya di sepanjang jalan kota Surabaya sampai Bali. Senantiasa menikmati perjalanan bersama lusinan barang angkutan pada setiap waktu.

Tepat setelah ia menikahi isterinya yang bernama Ibu Husnia di tahun 1983, Pak Kaiman dipercaya sebagai supir truk. 10 tahun berjalan, Mas Kaiman kemudian berpindah kerja sebagai supir bus angkutan umum untuk masa waktu 3 tahun. Namun pengalaman yang ramah akan pelayanan kepada masyarakat harus berubah drastis 180 derajat saat krisis moneter menerpa perekonomian Indonesia di tahun 1999.

Menjadi Preman, tapi tidak pernah Melukai korban.

Bingung kiranya tentang bagaimana mencukupi kebutuhan untuk 5 adiknya, beserta orang tua. Ia selekasnya tak mempertimbangkan segalanya akan keputusan ketika berperan di kehidupan gelap yang acapkali disebut premanisme.

Siang hari bekerja pada sebuah perusahaan ekspedisi di Surabaya. Kalau malam barulah ia bergabung bersama teman-teman seprofesi. “Saya sendiri sebenarnya bukan preman yang tegaan. Kami memang mencuri atau merampok barang, tapi pantang menyentuh atau melukai korban,” Sesaat ketika menjelaskan, linangan air mata yang berkaca-kaca pun tampak sedikit berjatuhan diantara cerita panjangnya, “Ada teman yang jadi ‘raja tega’ karena sanggup membunuh dan memperkosa. Saya dan beberapa teman malah mendoakan dia ditangkap atau mati ditembak polisi.”

Eksistensi Pak Kaiman di kelompoknya tidak jauh dari kegiatannya selama ini. Sebagai supir pembawa barang-barang curian dan rampokan. Cukup banyak rekan-rekannya yang sering ditangkap oleh polisi, bahkan tidak sedikit terbunuh karena peluru panas. Sungguh kenyataan hidup yang sangat memilukan, bila terhitung bahwa nantinya dia adalah sosok pemimpin yang penyayang terhadap sesama dan bertanggung jawab.

Awal mengetahui banyak hal tentang Jamur Tiram. Tetapnya di Kota Kembang.

Tiga tahun merupakan waktu yang belum bisa dikatakan lama, tapi Kang Kaiman tetap memilih kabur pada tahun 2002 ke Ciwidey, Jawa Barat. Ia tobat dan kemudian bersembunyi selama 3 bulan di rumah temannya, “Saya waktu itu benar-benar tak ingin membantu orang tua dan adik-adik, terutama keluarga saya, dari uang haram.”

Kiasan tampang berambut gondrong dan kumis tebal berangsur-angsur hilang. Tatapan masa depan pun semakin berani untuk mempertegas interaksi selanjutnya. Hingga akhirnya, Pak Kaiman mampu tersenyum sangat manis saat berkenalan dengan seorang petani jamur di Bandung. Mereka berbicara panjang lebar dan keramahtamahan saat itu mendorong ia berniat untuk belajar banyak tentang budidaya tanaman yang memiliki nama latin, Pleurotus ostreatus atau jamur tiram putih.

Dari situ, sang anak kampung terinspirasi untuk kembali pulang ke desanya di Bulu Kandang, Pasuruan, Jawa Timur. Ilmu budidaya jamur tiram selekasnya dipraktekkan sepanjang tahun 2003 – 2004. Mata pencaharian utama juga tidak jauh berbeda dari keahlian yang memang ia miliki sampai saat ini. Hilir mudik sebagai supir angkutan antar desa.

Mengajukan penawaran pelatihan Jamur Tiram ke PT Sampoerna, tbk.

Yah! Namanya juga coba-coba, wajarlah bila kegagalan kerap hadir pada masa awal usaha. Mungkin saja karena tekhnik kerjanya yang masih belum berpengalaman. Namun tetap ia tidak patah arang. Berkat komunikasi dan informasi dari teman-temannya, Pak Kaiman bersama 19 tetangganya mengajukan permohonan kerjasama untuk pelatihan Jamur Tiram ke Pusat Pengembangan Kewirausahaan yang dimiliki oleh PT Sampoerna, tbk.

Kebetulan sekali, Pusat Pelatihan Kewirausahaan Sampoerna (PPKS) memiliki letak kantor tidak jauh dari desanya. Beruntung sekali kiranya saat proposal mereka disetujui pada pertengahan 2005. “Waktu itu kami tidak punya apa-apa, selain semangat dan kenekatan. Kami juga ingin kampung kami bercitra baik. Untuk manajemen Sampoerna sangat bijak. Mereka langsung menerima usulan kami dan kami diminta membentuk kelompok kerja dari delapan RW (rukun warga). Kami mendapatkan pelatihan budidaya jamur secar amodern selama sebulan. Sampoerna sediakan uang dan tenaga instruktur.”

Tiga bulan setelah pelatiha, setiap kelompok kerja diberikan bantuan modal secara cuma-cuma sebanyak Rp. 30 juta dan 100 bibit jamur tiram untuk baglog (kumbung). Bahkan pihak Sampoerna tidak segan-segan untuk terus mendampingi kegiatan praktek kerja pasca pelatihan, serta mengakomodasi jalur pasar untuk pendistribusian hasil panen.

Cita-cita untuk merubah Desa Bulu Kandang menjadi pusat budidaya jamur hanya tinggal mimpi di akhir 2005. Perihal tersebut bisa terjadi karena mayoritas rekan-rekannya memiliki karakter yang tidak telaten dan tidak sabar. Belum lagi, kenyataan modal yang diberikan habis digunakan oleh kelompok kerjanya untuk memesan kredit sepeda motor dan membeli perabotan rumah tangga.

Ia pun mengaku bila menjalani kegiatan budidaya jamur tiram tidaklah mudah. “Secara teknis kegagalan yang sering saya alami karena terjadi kontaminasi antara bibit dan hama.” Ia pernah mencoba untuk melakukan penanaman sebanyak 1.000 bibit, namun hasilnya yang tumbuh hanyalah 500 jamur.

Kesempatan Kali ini, pastinya Berbeda dari sebelumnya.

Berdasarkan slogan, “Desa Bulu Kandang siap menjadi salah satu Kampung Jamur andalan di Jawa Timur,” semangat pantang menyerah pun kembali timbul. Ia lantas secara meyakinkan mampu mengajak teman, saudara, kerabat, tetangga, belum lagi lusinan mantan preman diajak untuk mengkreasikan tanah seluas 240 meter persegi.

Untuk mendanai usaha tersebut, Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB) motor roda dua milik temannya digunakan sebagai jaminan kredit pinjaman usaha di Bank Rakyat Indonesia (BRI). Saat itu, modal yang terkumpul tidak leih dari Rp. 5 juta. Dan memang terbukti, kinerjanya benar-benar mampu memperlihatkan hasilnya di awal tahun 2006.

Respon positif mendorong Pak Kaiman tuk rela terjun langsung menggunakan sepeda motor butunya guna menyusuri lapangan. Beberapa kota sepanjang propinsi Jawa Timur, ia datangi untuk menawarkan hasil panennya. Sebut saja pasar-pasar yang terletak di kota Malang, Sidoarjo, Surabaya, dan Pasuruan.

Pasalnya, jamur tiram bisa dikatakan produk yang masih asing pada saat itu. Jadi bukan tidak mungkin bila ia harus ekstra kerja keras untuk menjelaskan secara detail mengenai manfaat, fungsi, serta kegunaan jamur tiram untuk keseharian konsumen. “Waktu jualan di pasar, saya sampai harus membawa kertas dan spidol untuk bisa memberi keterangan bahwa jamur tiram ini bisa dibuat macam-macam,” urainya kepada Harian Kompas (26/07/2012).

Toh, dewi fortuna terus mengiringi perjalanan bisnisnya. Pada tahun 2007, buah manis dari perjuangan selama ini tiba-tiba menghampirinya melalui catatan pemesanan sebanyak 1.500 kumbung. Namun kapasitas ketersediaan dana menuntut dia untuk kembali mengajukan permohonan kredit ke Bank BRI. Kali ini pinjamannya sebesar Rp. 10 juta, jadi ia menganggunkan modal yang lebih besar lagi dari sebelumnya, yakni BPKB mobil temannya.

Kejutan memang pantas terjadi, karena kenyataan kali ini sangat berbeda dengan keadaan sebelumnya. Setiap hari biasanya sosok pelanggan yang datang adalah seorang pengepul atau tengkulak. Adapun total pemesanan dalam seharinya hanya mencapai 3 kwintal jamur tiram. Sedangkan kasus yang satu ini! Udah investor besar, Pak Kaiman cukup menjawab booming pembelian melalui jalur telepon.

Sudah Mampu membuat Bibit Jamur sendiri dan terbitlah, ‘Jatiman Food.’

Untungnya, ia tidak perlu lagi capek-capek membeli bibit Jamur Tiram berjenis PDA, F2, dan F1 ke Balai Teknologi Pertanian di Lawang, Malang. Dengan begitu, keuntungan dari budidaya jamur lebih besar karena ia sudah mulai memproduksi bibit di tahun 2008 untuk kebutuhan sendiri sejak bertemu dengan usahawan jamur asal Belanda.

Mr. Dwigth namanya dan mereka sempat berbincang panjang lebar mengenai Jamur dari Thailand. Kebetulan pertemuan tersebut bertepatan dengan pelatihan jamur tiram yang diadakan oleh sebuah pondok pesanteren di Pekan Baru, Riau. Disana ia pun bertugas sebagai pembicara bersama si Menir. Adapun perkenalan mereka bisa terjadi atas jasa seorang penterjemah yang berasal dari Kota Kediri.

Sesampainya di Jawa, Pak Kaiman disuruh mengembangbiakkan bibit yang di kirim langsung dari negeri Kincir Angin. Namun, “Metode ini harus saya rahasiakan sesuai amanat dari orang Belanda itu. Tapi kalau soal media tanam, teknik tanam, dan lain-lain, saya mau ajarkan. Sampai sekarang hubungan kami masih bagus. Setiap kali orang Belanda itu berlibur ke Bali, ia sempatkan ke Bulukandang untuk lihat usaha saya.”

Setelah dirasakan penjualan jamur telah stabil, ia lebih mengkonsentrasikan usahanya untuk menjual kumbung/baglog. Belum lagi, ia pun kerap diundang ke berbagai pelatihan guna memberikan presentasi tentang keahlian dan pengalamannya selama ini. Ada berita gosip menyatakan bahwa uang sejumlah Rp. 15 juta adalah bayarannya setiap kali menghadiri pelatihan dan seminar.

Dari sinilah kependekan dari “Jamur Tiram Kaiman’ atau Jatiman Food terbentuk. Uniknya, perayaan tersebut dibarengi oleh kejadian lucu yang ia terima saat mengunjungi acara seminar di Bandung pada tahun 2010. Ia enggan untuk hadir ke podium karena sang panitia memperkenalkan dirinya kepada khalayak masyarakat disitu dengan menyatakan bahwa Pak Kaiman adalah seorang pembicara yang telah bergelar Profesor dari Jawa Timur.

Saya kira animo tersebut benar ah! Buktinya sejak tahun tersebut, usaha Jatiman Food telah sukses mendapatkan omzet sebesar Rp. 4,2 Milyar / tahun. Tempat pembibitan pun bertambah menjadi 4 tempat. Yakni: Malang, Lumajang, hingga Jember, selain desanya sendiri Bulu Kandang, Pasuruan, Jawa Timur. Belum lagi, olahannya tiap 3 hari mampu menghasilkan 1 – 1,5 ons jamur dari tiap baglog. Sedangkan ia telah memiliki 29 kumbung di Bulu Kandang.

Untuk hasil kerja selama ini dari Jatiman Food, ternyata angka tersebut dirasa masih belum sempurna. Kira-kira jumlah sebanyak 6-10 ton pada setiap bulannya senantiasa dikirim untuk pasar ekspor ke Korea Selatan dan Cina. Belum lagi pasar lokal pun tidak lepas dari pantauan pemasarannya, seperti Surabaya, Bali, Tarakan, dan Balik Papan.
Kenyataan cerita yang sangat meyakinkan kiranya. Pesan dan kesan dari sebuah perjuangan sosok manusia desa telah mampu berkata bahwa ‘Kita semua juga Pasti Bisa.’ Pak Kaiman hanyalan seorang Warga Negara Indonesia lulusan sekolah dasar kelas 5 SD, pernah mengarungi jalan raya sepanjang Surabaya sampai Bali sebagai supir truk barang, dan bahkan sempat menggelincirkan perjalanan waktunya untuk menjadi Preman di Surabaya. Dan hingga saat ini, suara lantang anak desa berhasil mendidik ratusan hingga ribuan siswa yang berniat belajar tentang budidaya Jamur Tiram.

Sempat Menjadi Sopir Truk

Sebelum menggeluti usaha jamur tiram, Pak Kaiman sempat menjadi sopir truk. Ia menjalani profesi tersebut selama 14 tahun, sejak 1995. Hingga suatu saat ia merasa lelah dan bosan sehingga menghentikan profesinya dan membeli kendaraan bermotor roda empat sistem kredit untuk dioperasikan sebagai angkutan kota di wilayah Kab. Pasuruan.

Namun ternyata semua tak selalu seperti yang diharapkan. Ternyata ia harus berhadapan dengan sepinya volume penumpang kondisi yang membuat Kaiman tak mendapatkan penghasilan cukup guna memenuhi kebutuhan sehari-hari dalam rumahtangga. Sehingga iapun tidak melanjutkan usaha angkutan kota.

“Peluang kerja sangat sempit bagi saya sebab saya tidak punya ijazah, mengingat tidak tamat Sekolah Dasar (SD). Dalam keadaan seperti ini, pada 2005 ada tawaran untuk mengikuti pelatihan kewirausahaan di bidang budidaya jamur dari HM Sampoerna, maka saya mengikutinya,” kata Kaiman.

Pak Kaiman akhirnya mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh pabrik rokok tersebut. Waktu itu ada 20 peserta dari Desa Bulu Kandang yang turut dalam pelatihan budidaya jamur tiram, dan secara bersama-sama memulai usaha tersebut. Namun tak semuanya melanjutkan usaha ini.

Saat memulai usahanya Kaiman bermodalkan 1.000 unit baglog. Karena taklagi punya mata pencaharian Kaiman memulai usaha ini dengan penuh keseriusan. Waktu itu ia sudah memiliki tempat budidaya yakni bangunan berdinding bambu.

Berdasarkan ilmu yang diperoleh dari pelatihan, media tanam terdiri dari serbuk kayu gergajian, dedak/katul, tepung jagung dan kalsium yang dibungkus plastik dengan bobot 1,1 kg per unit baglog. Kumbung seluas 50 m2 (lebar 5 meter x panjang 10 meter) dapat dimanfaatkan untuk pembudidayaan 5.000 unit baglog. “Jamur tiram tergolong tanaman yang cepat tumbuh dan setiap unit baglog dapat menghasilkan panenan hingga 1 kg selama 5 bulan, lalu diganti media tanam baru. Tetapi saat panen perdana saya kesulitan mencari pasar,” kenangnya.

Memasarkan Dari Swalayan Hingga Restoran

Pak Kaiman tak mau menyerah begitu saja. Mencari pangsa pasar akhirnya dia berkeliling menawarkan jamur tiram ke restoran dan swalayan. Ia belum membidik pasar tradisional karena memang masyarakat luas belum terbiasa mengkonsumsi jamur tiram.

Ia juga terbantu dengan adanya PPK Sampoerna yang turut mempromosikan jamurnya. Mereka memajang produk Kaiman di etalase sekaligus diikutkan pameran bersama pengusaha kecil lainnya yang mereka bina.

Berkat ketekunan dalam memperluas pasar, Pak Kaiman berhasil mendapatkan order dari para pengepul maupun restoran di berbagai kota tak hanya dari wilayah Kab. Pasuruan saja. Saat ini karena permintaan yang terus meningkat iapun terus berupaya meningkatkan volume usahanya. Kini dia memiliki beberapa kumbung yang digunakan membudidayakan puluhan ribu unit baglog. Selain itu, juga memenuhi permintaan baglog dari petani dan mampu memunculkan petani-petani jamur di beberapa daerah.


Support Keyword: Bisnis UKM, Info UKM, Peluang Usaha, Tips Bisnis, Peluang Bisnis UKM, Seputar UKM, Bisnis Online, Ulasan Bisnis UKM

Menyediakan Informasi Peluang Bisnis, Peluang Usaha, Usaha Kecil Menengah, Bisnis Waralaba, Promosi Bisnis UMKM. Potensi Bisnis Usaha kecil menengah (UKM) merupakan motor penggerak perekonomian di Indonesia. BisnisUKM.id media Bisnis Online di harapkan menjadi wahana sumber informasi terbaru pelaku bisnis UKM. Informasi Periklanan & Review Hub: info@bisnisukm.id

We will be happy to hear your thoughts

Leave a reply