Papercraft: Menyulap Kertas Jadi Fulus

Ketika mendengar kata papercraft (kerajinan dari kertas), banyak orang yang langsung mengidentikkannya dengan kegiatan origami (seni melipat kertas asal Jepang). Tidak keliru juga, tetapi papercraft menggunakan beberapa lembar kertas yang dirakit dengan beberapa teknik seperti menggunting , melipat, mengelem, dan membentuk kertas.

Papercraft kini juga telah berevolusi menjadi sebuah hobi yang kian kreatif dan bervariasi. Di tangan orang-orang kreatif, selembar kertas bisa saja disulap menjadi sesuatu yang bernilai jual tinggi.

Tak jarang, yang tadinya hanya sekadar hobi, keterampilan mendesain dan melipat kertas ini pun bisa menjadi bisnis kreatif dengan omzet hingga puluhan juta rupiah. Salah satu hobi papercraft yang paling populer saat ini adalah membuat mainan dari kertas (papertoy).

Bukan sekadar mainan biasa, papertoy mengandalkan inovasi dan otak kreatif dari pembuatnya, sehingga produk yang dihasilkan bisa bernilai jual tinggi. Dari lembaran kertas yang didesain, digunting, dilipat, dan dilem sedemikian rupa, bisa dihasilkan berbagai bentuk unik; mulai dari replika tokoh kartun atau pahlawan super, robot, hingga replika kota, kendaraan, dan gedung yang semuanya sangat menyerupai bentuk asli.

Dari tahun ke tahun, hobi papercraft semakin banyak berkembang di Indonesia, dan diminati oleh berbagai kalangan dengan beragam usia dan latar belakang ekonomi. Bahkan, kerajinan kertas buatan anak bangsa tidak kalah unik dan artistik dibandingkan dengan buatan seniman kertas dari luar negeri. Alhasil, hobi papercraft tidak lagi dipandang sebelah mata dan mulai dipertimbangkan sebagai kegiatan prospektif dalam bisnis kreatif.

Seperti yang diungkapkan penghobi papercraft sekaligus pemilik paperroni, Roni Imaduddin. Tak hanya sekadar hobi, Roni yang sudah menekuni papercraft sejak 2013 dengan menjadi desainer serta builder (perakit) ini bisa meraup Rp75.000— Rp250.000 untuk setiap desain yang dibuatnya.

Selain Roni, juga ada Julius Perdana yang bisa mendapatkan Rp30 juta per bulan dari kegemarannya membuat desain papercraft. Pria 39 tahun ini sudah memuat desain-desain papercraft hasil rancangannya di website pribadi paper-replika.com sejak 2008.

Secara rutin, Julius membagi desain atau pola papercraft dalam bentuk PDF yang dapat diakses secara gratis sehingga bisa menjadi sumber belajar bagi mereka yang ingin menekuni papercraft. “Saya sebagai blogger memperoleh pendapatan dari iklan website. Ratarata saya bisa mendapatkan Rp30 juta setiap bulan dari iklan,” ujarnya.

Kreativitas Julius yang memang berlatarbelakang arsitek ini bisa mendapatkan inspirasi dari mana saja untuk membuat desain papercraft. Dari berita tentang NASA yang mengeluarkan roket baru, Julius bahkan bisa membuat pesawat atau roketnya.

Untuk harga jual, semakin rumit dan detail elemen dari model papercraft yang dibuat, semakin tinggi nilai jualnya. Misalnya, rumah bangunan sering dihargai antara US$8 dan US$30. Julius bercerita, desainnya berupa robot Mars Curiosity pernah dibeli oleh majalah di Amerika dan perusahaan game di Jerman dengan harga antara US$300—US$1.500.

Memiliki hobi papercraft memang tak melulu soal uang. Bagi Roy Sitompul, misalnya, hobi papercraft bisa membantunya menghilangkan stres karena dia bukan menikmati hasil jadinya, tetapi lebih kepada proses pembuatannya. “Manfaatnya itu bisa buat relaksasi,” katanya.

Selain perorangan, berbagai komunitas dan tempat kursus papercraft bermunculan di Tanah Air, sejalan dengan semakin banyaknya peminat kerajinan ini. Kegiatan yang dilakukan juga bermacam-macam, mulai dari workshop, pameran, berjualan, bertukar karya, dan sebagainya.

KOMUNITAS

Salah satu komunitas papercraft yang terbesar adalah Peri Kertas. Berawal dari 50 anggota di portal Kaskus, kini Peri Kertas memiliki anggota terdaftar hingga 12.000 orang yang tersebar di 35 kota di Indonesia.

Menurut Rauf Raphanus, Founder Komunitas Peri Kertas, anggota yang tergabung dalam komunitas ini tak hanya sekadar hobi, tetapi banyak juga yang ingin memanfaatkannya dengan berbisnis. Apalagi, bisnis papercraft sangat potensial karena bahan baku sangat banyak tersedia di Indonesia.

Ada sekitar 100 jenis kertas dengan berbagai ukuran, bahan, atau bahkan wanginya yang tersedia di dalam ini. “Ini adalah produk yang murah dan unik. Untuk lini bisnis kami saja, kami menargetkan omzet Rp30 jutaRp50 juta per bulan,” tuturnya.

Terkait kegiatan komunitas, Rauf mengatakan Peri Kertas tak hanya mengadakan berbagai event seperti pameran, seminar, dan workshop, papercraft juga membentuk website dan fanpage di media sosial. Ada juga website khusus untuk memamerkan desain dari anggota.

Selain Peri Kertas, juga ada komunitas Hexa Papercraft yang terbentuk pada akhir 2012 lalu. Dengan keanggotaan baru dari pelajar SMA Negeri 6 Depok kelas 10 yang berjumlah 12 orang, sejak 2013 konsep komunitas Hexa Papercraft lebih ke arah kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, terutama di SMA Negeri 6 Depok dan SMA Negeri 10 Depok.

Farhan Azis dari komunitas Hexa Papercraft menjelaskan, kegiatan komunitas Hexa Papercraft dibagi menjadi 2, yaitu offline (berupa kegiatan pameran, workshop, dan kopdar) dan online (sharing tip atau upload hasil harya rakitannya di forum Peri Kertas maupun pada akun sosmed masing-masing).

LADANG USAHA

Booming kerajinan papercraft tidak hanya membuat karya-karya produk tersebut beredar di dunia maya sebagai barang jualan. Tak sedikit para kreator meliriknya sebagai ladang usaha dengan memberikan pelatihan bagi peminat kerajinan ini.

Salah satunya adalah Emiwati. Gadis berusia 27 tahun yang berdomisili di Yogyakarta ini mulai memberikan kursus privat papercraft sejak 2 tahun lalu. Dengan latar belakang lulusan seni rupa, Emiwati menawarkan kursus privat dengan tarif mulai dari Rp800.000-Rp1,5 juta, dengan durasi 3 jam untuk setiap kali pertemuan.

Kursus pun biasanya dilakukan di tempat-tempat publik seperti kafe dan restoran, dengan peserta yang biasanya mulai dari usia 25-30 tahunan. Namun demikian, katanya, untuk papercraft ini sebenarnya juga bisa belajar dari Youtube ataupun blog karya pengrajin tertentu.

Selain Emiwati, juga ada Ari Gami sebagai pemilik tempat kursus Papercraft Rumah Kertas, yang dengan suka rela memberikan kursus kepada siapa saja yang berminat. Peserta dapat bebas belajar origami (seni melipat) dan kirigami (seni menggunting), hanya dengan mengganti biaya kertas yang terpakai. Menurut Ari, kemampuan origami dan kirigami merupakan modal awal untuk membuat papercraft.

Editor : Gita Arwana Cakti (Sumber:http://koran.bisnis.com/)


Berita UKM | Bisnis Online | Even Bisnis UKM | Info Bisnis UKM | Inspirasi Bisnis UKM | Koperasi | Kredit UKM | Manajemen Bisnis | Pelatihan Bisnis UKM | Peluang Bisnis UKM | Peluang Usaha | Pemasaran Bisnis UKM | Pembiayaan UKM | Seputar UKM | Strategi Bisnis UKM | Tips Bisnis UKM | Ulasan Bisnis UKM

Menyediakan Informasi Peluang Bisnis, Peluang Usaha, Usaha Kecil Menengah, Bisnis Waralaba, Promosi Bisnis UMKM. Potensi Bisnis Usaha kecil menengah (UKM) merupakan motor penggerak perekonomian di Indonesia. BisnisUKM.id media Bisnis Online di harapkan menjadi wahana sumber informasi terbaru pelaku bisnis UKM. Informasi Periklanan & Review Hub: info@bisnisukm.id

We will be happy to hear your thoughts

Leave a reply