Peluang Usaha Agro Bisnis

bisnis-ukm-solo-wirausaha-agrobisnis.jpg

Peluang Usaha Agro Bisnis– Memiliki usaha saat ini seperti sebuah impian bagi semua orang. Tak perlu bekerja fulltime, tanpa terikat waktu namun masih tetap menghasilkan. Untuk mulai menciptakan peluang usaha, Anda bisa memulainya dari rumah.

Salah satu solusinya adalah dengan menjalankan usaha agrobisnis yang saat ini sudah cukup banyak dilirik oleh masyarakat. Selain tak membutuhkan modal yang cukup besar, pengelolaan bisnis tersebut pun terbilang lebih mudah.

Anda Bingung Cari Produk KPR Terbaik? Cermati punya solusinya!

Solusi untuk Anda yang Tidak Memiliki Lahan untuk Menjalankan Agrobisnis

Agrobisnis tak harus dimulai dengan skala yang cukup besar. Sering kali pelaku usaha agrobisnis tersebut hanya terpaku dari sisi kuantitas. Padahal jika melihat sisi lain dengan menjalankan sistem hidroponik pun usaha agrobisnis sudah dapat dijalankan. Sistem hidroponik tersebut memungkinkan Anda untuk menanam tanpa memerlukan lahan yang luas.

Anda pun bisa memanfaatkan halaman depan rumah, hingga teras belakang rumah untuk sekedar memulai membuat sistem penanaman secara hidroponik. Sebagai langkah awal, Anda bisa memulainya dengan menanam sayuran organik disana.

Untuk memulai sistem penanaman secara hidroponik, Anda harus mengeluarkan modal awal untuk mengembangkan sistem penanaman hidroponik. Setelah peralatan Anda tersebut telah Anda masukkan kedalam list pengeluaran awal, Anda pun harus mulai belajar bagaimana cara mengelola sistem pertanian secara hidroponik.

Selanjutnya apabila perkebunan hidroponik Anda telah menunjukkan ke arah positif berupa pasokan sayuran Anda yang dapat menghasilkan dalam jumlah besar, mulailah untuk mengembangkan usaha menjadi lebih luas dengan menargetkan pangsa pasar menengah atas.

Dengan menargetkan pangsa pasar menengah atas, Anda pun bisa menghasilkan pemasukan yang lebih besar dan tentunya perkembangan perusahaan jauh lebih pesat. Keuntungan yang lebih besar tersebut bisa Anda dapatkan lantaran harga yang Anda patok bisa jauh lebih tinggi. Namun ingat, harga yang tinggi tersebut pun harus diikuti dengan kualitas yang baik.

1. Reseller Jual Beli Bibit secara Online

Salah satu hal terpenting untuk memulai bisnis tanaman adalah dengan menyediakan bibit. Dengan bibit yang unggul hal tersebut dapat membuat produktivitas pertanian semakin meningkat.

Dengan bermodalkan internet, Anda pun bsia dengan leluasa memasarkan produk tersebut. Selain itu, dengan menggunakan internet, Anda pun bebas mengeksplorasi jenis bibit bibit tanaman yang hendak Anda jual.

Dengan mengenal jenis bibit yang unggul tentunya membuat pecari bibit pun akan semakin mendapatkan perhatian dari pencari bibit tanaman. Bagi Anda yang masih ragu untuk memiliki usaha sendiri, Anda pun bisa menjadi reseller dari toko online yang sudah lebih dulu dikenal masyarakat secara luas.

2. Mengembangkan Sayuran Hidroponik

Seperti telah di singgung sebelumnya, bercocok tanam menggunakan sistem hidroponik belakangan ini mendapatkan perhatian dari masyarakat, utamanya bagi mereka yang tinggal di daerah perkotaan dan tidak memiliki banyak lahan untuk bercocok tanam.

Sistem penanaman hidroponik ini biasanya menggunakan sistem pertanian organik yang artinya tidak membutuhkan pestisida untuk merawat tanaman tersebut. Saat ini permintaan sayuran organik semakin meningkat seiring bertambahnya gaya hidup sehat masyarakat. Selain itu pengembangan sayuran hidroponik pun terbilang cukup mudah lantaran tidak membutuhkan lahan yang luas serta modal yang dibutuhkan pun kecil.

3. Usaha Obat dari Bahan Alami

Selain sayuran hidroponik, Anda pun bisa bercocok tanaman-tanaman obat. Ada banyak sekali jenis tanaman yang bisa di buat menjadi obat-obatan alami. Peminat obat herbal atau obat obatan alami pun semakin meningkat lantaran masyarakat sudah paham betul pentingnya menjaga kesehatan dengan menggunakan bahan-bahan organik.

Peluang tersebut tentunya dapat Anda terapkan untuk menjalankan usaha agrobisnis dengan skala yang lebih kecil dan dapat berkembang menjadi lebih besar jika memang permintaan semakin berkembang menjadi lebih besar.

Beberapa jenis obat herbal diantaranya adalah lidah buaya, kunyit, jahe merah, lengkuas, kencur, dan masih banyak lagi. Selain sistem penanamannya yang mudah, menanam obat obatan alami pun terbilang cukup mudah.

4. Budidaya Buah-Buahan dan Sayuran

Selain bertanam sayuran dan obat-obayatn herbal, Anda pun bisa membudidayakan buah-buahan. Untuk memulai bisnis ini, Anda pun bisa memulainya dengan membeli bibit tanaman yang bagus namun tidak terlalu mahal.

Contoh tanaman buah-buahan yang dapat Anda budidayakan antara lain jeruk manis, pisang, hingga buah naga. Saat ini pun ada banyak sekali jenis tanaman buah-buahan yang dapat Anda tanam menggunakan sistem hidroponik sehingga mampu menghasilkan buah dengan kualitas organik.

5. Bisnis Tanaman Hias

Jual Tanaman Hias, Bisnis tanaman hias dari dulu sampai sekarang masih menduduki sebagai penghasil keuntungan yang cukup besar. Contohnya saja untuk satu buah tanaman bonsai dapat di hargai puluhan juta rupiah tergantung dari keunikan dari bentuk bonsai tersebut. Meskipun dibandingkan dengan saat dulu pertama kali trend bonsai telah mengalami penurunan, namun bukan berarti bisnis tanaman hias sudah tidak laku.

6. Menyiapkan Tanaman Cangkok

Tanaman cangkok dari dulu hingga saat ini telah selalu menjadi primadona lantaran tanaman dari hasil cangkok terbukti cepat berbuah dan hasilnya pun tidak jauh berbeda dengan tanaman induknya. Penanamannya pun terbilang cukup mudah, yakni hanya menggunakan pot.

Sepintas memang jenis penanaman dengan cara cangkok ini memang tidak berbeda jauh dengan menanam secara hidroponik, hasil yang didapatkan dari usaha ini pun relative besar dengan tanpa terlalu banyak lahan yang diperlukan.

7. Usaha Pembiakan Bibit Pohon

Selain usaha penjualan bibit, Anda pun bisa menjual bibit tanaman dalam bentuk yang telah di kembang biakan. Indonesia sendiri memiliki banyak sekali jenis tanaman tanaman yang bisa dikembang biakan. Untuk mulai membuat usaha pengembang biakan bibit, Anda pun bisa mempelajari terlebih dahulu tanaman apa saja yang bisa tumbuh di daerah Anda.

8. Budidaya Jamur Tiram

Jamur sebagai salah satu sumber protein dari dulu hingga saat ini banyak sekali diminati oleh masyarakat, utamanya untuk mereka yang vegetarian. Jamur bisa menjadi salah satu sumber protein nabati yang paling dicari lantaran rasanya pun lezat.

Faktanya, jenis usaha satu ini tidak terlalu banyak yang menyukainya bahkan terbilang sangat sepi, padahal potensinya cukup besar. Salah satu buktinya yakni berbagai olahan olahan mahal di restaurant hingga hotel-hotel pun telah menggunakan jamur sebagai bahan utamanya.

Salah satu jenis jamur yang banyak di sukai oleh masyarakat adalah jamur tiram. Jamur yang sering kali disajikan di restoran mewah ini banyak yang mencarinya.

9. Berbagai Budidaya Tanaman Rempah-Rempah

Yang terakhir adalah budidaya tanaman rempah-rempahan. Indonesia yang sedari dulu memang memiliki potensi rempah-rempah yang cukup melipah membuat Anda tak pusing mencari tanaman rempah-rempah apa yang hendak Anda tanam. Selain itu hampir seluruh lahan pun bisa ditanamni tanaman rempah-rempah. Mulai dari bawang merah, bawang putih, jahe, lengkuas, dan masih banyak lagi.
Peluang Usaha Anti-Mainstream dengan Keuntungan Maksimal

Dengan niat yang sungguh-sungguh tak menutup kemungkinan usaha agrobisnis rumahan yang Anda jalankan pun bisa menjadi sumber penghasilan yang justru dapat menghidupi kebutuhan sehari-hari Anda.

Untuk Anda yang benar benar tidak memiliki modal untuk menjalankan usaha sekalipun dalam skala kecil, Anda bisa mengajukan pinjaman melalui bank-bank yang saat ini telah memberikan pinjaman Kredit Tanpa Agunan (KTA). Mulailah dengan mengajukan pinjaman dengan nominal kecil, hal ini untuk menghindari resiko gagal bayar.

Peluang Agrobisnis: Juragan Agribisnis Beromzet Miliaran (Triyono,)

Mungkin kita perlu mencontoh semangat Triyono, finalis tingkat nasional Penghargaan Wirausahawan Mandiri 2010 ini. Meski memiliki kekurangan fisik, ia berhasil mendirikan usaha di bidang agribisnis peternakan dan berhasil mencetak omzet hingga Rp 3 miliar per tahun. Fisik Triyono memang tak sempurna. Meski ketika berjalan harus ditopang kruk yang mengapit di kedua lengannya, ia berhasil membuktikan kepada dunia bahwa ia mampu memberikan manfaat kepada orang lain.

Triyono terlihat semringah. Berkali-kali ia tersenyum ketika menceritakan awal memulai bisnis. Bukan mengingat kenangan manis, tapi justru soal kesulitan dan tantangan yang ia hadapi saat membangun bisnis peternakan di Sukoharjo. Tri, sapaan pria yang sejak berusia satu tahun divonis penyakit polio ini, bercerita bahwa ketika terjun di dunia agribisnis, dia tak banyak mendapat dukungan dari kerabat dan keluarganya sendiri. “Mereka saat itu selalu melihat ketidaksempurnaan fisik saya, mereka ragu akan kemampuan saya bekerja. Saat itulah saya merasa tidak berguna,” kenang Tri.

Lelaki berumur 29 tahun ini teguh memegang prinsip: sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain. Penolakan yang selalu disematkan kepadanya ketika mencari pekerjaan menyadarkan Tri bahwa ia harus membangun usaha sendiri untuk mengasapi dapurnya. “Sudah pasti, saya adalah orang pertama yang ditolak perusahaan ketika melamar sekalipun IPK saya bagus,” tuturnya sambil tersenyum. Tri mulai merintis usaha agribisnis peternakan ketika masih berstatus sebagai mahasiswa Jurusan Pertanian dan Peternakan Universitas Sebelas Maret, Solo, tahun 2006. Dengan bermodalkan Rp 5 juta, ia memulai usaha bebek potong. Ia membeli 500 bebek untuk dia kembang biakkan dan dibesarkan di lahan pekarangan rumah keluarganya.

Ia benar-benar menerapkan ilmu peternakan yang diperoleh di bangku kuliah. Hasilnya tokcer. Banyak pesanan mampir karena kualitas bebek peternakan Tri terbilang unggul. Bebek hasil ternaknya bukan hanya sehat, tetapi juga memiliki berat proposional. Ini yang membuat harga “si kwek-kwek” selalu bagus. Pelan tapi pasti, selama setahun Tri mampu mengumpulkan modal dari usaha bebek potongnya.

Tri memakai tambahan dana itu sebagai usaha jual beli sapi menjelang Idul Adha. Awal 2007 ia memberanikan diri memulai usaha jual beli hewan kurban. Ia mengenang, saat itu menjadi tahun terberat baginya. Selain harus mempersiapkan ujian skripsi, ia juga baru merintis agribisnis. Walhasil, saat pagi hingga siang hari ia harus berkutat dengan kuliah. Setelah itu Tri mencurahkan waktunya membeli dan menjual sapi untuk pasokan hari raya kurban. Seorang diri, ia memasok hewan-hewan tersebut ke beberapa daerah di sekitar Sukoharjo.

Masuk keluar pasar setiap hari sudah menjadi kegiatan rutin. “Saya harus berjalan jauh dengan menggunakan kruk, mencari dan membeli sapi yang berkualitas kemudian mengantar sapi-sapi tersebut ke tempat pesanan,” kenang Tri. Tapi, dia pantang menyerah meski beberapa orang kerap menolak bekerja sama dengannya. Segala usahanya tak sia-sia. Tri lulus dengan indeks prestasi kumulatif 3,2, dan juga meraih untung dari hasil penjualan sapi kurban. Ia memutar kembali keuntungan itu sebagai modal membeli sapi dan ayam.

Menyadari peluang usaha dari agribisnis cukup besar karena menyangkut kebutuhan primer banyak orang, dengan bermodalkan Rp 20 juta, Tri pun mantap membangun usaha secara serius pada tahun 2008. Dengan mengibarkan bendera CV Tri Agri Aurum Multifarm, Tri berbisnis peternakan terpadu sapi potong, ayam potong, dan pupuk organik. Meski tak memiliki latar belakang berbisnis, Tri mampu meraih pasar dengan cepat. Bekal kuliah menjadi nilai plus mengembangbiakkan ternak. Alhasil, pada 2008 dia mampu meraih omzet Rp 50 juta per bulan. Dia juga berhasil membuka lapangan kerja baru di desanya. Meski tak keluar sebagai pemenang Wirausahawan Mandiri 2010, Triyono tak kecewa.

Maklum, sejatinya, melalui ajang bertaraf nasional ini, ia ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa peternakan sangat layak menjadi pilihan anak muda dalam berusaha. Asalkan, dikelola dengan manajemen yang baik. Bagi Triyono, persoalan menang atau kalah bukanlah tujuannya mengikuti ajang Wirausahawan Mandiri 2010. Ada gol lain yang hendak dituju. Yakni, mengenalkan CV Tri Agri Aurum Multifarm ke seluruh Indonesia.

Tak hanya itu, Triyono juga ingin menunjukkan ke semua orang bahwa agribisnis bukan hanya usaha yang cocok untuk orang tua, tetapi juga dapat dikelola oleh anak muda seperti dirinya. “Saya ingin usaha agribisnis yang dikelola anak muda menjadi tren,” ungkap Triyono. Sejak mengembangkan usaha agribisnis dengan bendera Tri Agri tiga tahun lalu, omzet Triyono terus menanjak setiap tahun. Jika pada 2008, penghasilannya baru sebesar Rp 500 juta. Pada 2010 lalu pendapatannya melonjak enam kali lipat menjadi Rp 3 miliar.

Berbekal ilmu peternakan yang ia pelajari saat bangku kuliah, Triyono memulai usaha agribisnisnya dengan menjual bebek potong hingga kemudian beternak ayam dan terakhir sapi. Kualitas ternak-ternak milik Triyono yang dibudidayakan di peternakan seluas 1 hektar tersebut terbilang unggul ketimbang ternak milik pelaku usaha lain. Meski begitu, bukan berarti Triyono boros dalam membudidayakan semua hewan ternaknya, justru sebaliknya. Tapi, “Bukan berarti saya irit memberi makanan ternak, tapi saya memberi makanan ternak secukupnya,” ujar pria 29 tahun ini.

Hewan ternak yang diberi makan sesuai dengan asupannya dan tepat waktu lebih sehat dibandingkan dengan hewan ternak yang terus-terusan diberi makan. “Kami selalu memberi pakan tanpa campuran bahan kimia, hanya yang ada di lahan kamilah yang dimakan ternak, misalnya, rumput hijau,” kata Triyono. Cara ini tentu saja dapat menekan biaya operasional. Triyono juga memanfaatkan aneka bumbu dapur, seperti kunyit, jahe, dan lengkuas untuk mengobati ternak-ternaknya yang sakit akibat faktor perubahan cuaca.

“Kalau ternak tak nafsu makan, tinggal diberi daun pepaya yang telah ditumbuk halus,” imbuh dia. Memanfaatkan pakan yang bersumber langsung dari alam tanpa campuran bahan kimia, Triyono mengatakan, juga akan menghasilkan sapi, ayam, dan bebek yang sehat dan bebas dari penyakit. Jadi, manajemen pakan, menurut Triyono, adalah 70 persen kunci dari keberhasilannya.

Namun, pola peternakan yang layak ditiru dari Triyono tak cuma sekadar soal memelihara, membesarkan, dan menjual hewan ternak, tetapi juga mengenai pengolahan limbah ternak. Triyono—yang kerap memberikan penyuluhan kepada mahasiswa dari pelbagai perguruan tinggi, seperti Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan Universitas Sebelas Maret Surakarta—memanfaatkan kotoran hewan ternaknya menjadi pupuk kompos, kemudian dijual ke pasar seharga Rp 350 per kilogram. Dalam sebulan, Triyono dapat mengolah 15 ton kotoran ternak yang disulap menjadi pupuk. Pria yang sempat mengenyam pendidikan di sekolah luar biasa (SLB) selama setahun saat usia delapan tahun ini mengatakan, ide mengolah limbah peternakan muncul ketika ia melihat kotoran ternak yang makin menggunung di sekitar lahan peternakannya.

Untuk menjadi pupuk, Triyono mencampur kotoran ternak dengan tanah dan serbuk jerami. Pengerjaannya secara manual. Setelah semua bahan tercampur secara merata, kemudian dibungkus dengan plastik dan siap dijual ke pasar. Meski usaha agribisnis seperti peternakan telah mengantarkan sebagian orang bergelimang harta, toh sektor ini belum menjadi pilihan kalangan anak muda.

Selain masih dinilai terlalu kolot dan hanya cocok untuk orang tua dan masyarakat pedesaan, agribisnis khususnya peternakan dianggap tidak bergengsi. Apalagi, Triyono mengatakan, memulai usaha di bidang agribisnis harus memiliki modal yang besar. Inilah yang membuat para peternak lebih terlihat sebagai pemasok yang hanya mengejar keuntungan semata. Padahal, menurut Triyono, kalau usaha ini dikelola dengan baik, niscaya beternak bisa setara dengan usaha-usaha bergengsi lainnya, seperti kuliner, industri kreatif, atau jasa. (Mona Tobing/Kontan)

Mengenel Lebih Jauh Mengenai Peluang Usaha Agrobisnis

Agribisnis (baku menurut KBBI: agrobisnis) adalah bisnis berbasis usaha pertanian atau bidang lain yang mendukungnya, baik di sektor hulu maupun di hilir. Penyebutan “hulu” dan “hilir” mengacu pada pandangan pokok bahwa agribisnis bekerja pada rantai sektor pangan (food supply chain). Agribisnis, dengan perkataan lain, adalah cara pandang ekonomi bagi usaha penyediaan pangan. Sebagai subjek akademik, agribisnis mempelajari strategi memperoleh keuntungan dengan mengelola aspek budidaya, penyediaan bahan baku, pascapanen, proses pengolahan, hingga tahap pemasaran. Dalam konteks manajemen agribisnis di dalam dunia akademik, setiap elemen dalam produksi dan distribusi pertanian dapat dijelaskan sebagai aktivitas agribisnis. Namun istilah “agribisnis” di masyarakat umum seringkali ditekankan pada ketergantungan berbagai sektor ini di dalam rantai produksi.

Istilah “agribisnis” diserap dari bahasa Inggris: agribusiness, yang merupakan lakuran dari agriculture (pertanian) dan business (bisnis). Dalam bahasa Indonesia dikenal pula varian yang baku menurut KBBI, agrobisnis.

Objek agribisnis dapat berupa tumbuhan, hewan, ataupun organisme lainnya. Kegiatan budidaya merupakan inti (core) agribisnis, meskipun suatu perusahaan agribisnis tidak harus melakukan sendiri kegiatan ini. Apabila produk budidaya (hasil panen) dimanfaatkan oleh pengelola sendiri, kegiatan ini disebut pertanian subsisten, dan merupakan kegiatan agribisnis paling primitif. Pemanfaatan sendiri dapat berarti juga menjual atau menukar untuk memenuhi keperluan sehari-hari.

Dalam perkembangan masa kini agribisnis tidak hanya mencakup kepada industri makanan saja karena pemanfaatan produk pertanian telah berkaitan erat dengan farmasi, teknologi bahan, dan penyediaan energi.

FAO memiliki bagian yang beroperasi penuh pada pengembangan agribisnis yang bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan industri pangan di negara berkembang.

Ruang lingkup Agrobisnis

Agribisnis dapat mencakup bisnis yang memproduksi benih dan bahan kimia pertanian (seperti Dow AgroSciences, DuPont, Monsanto, dan Syngenta), pakan ternak, alat dan mesin pertanian (seperti John Deere), pemrosesan bahan pertanian, produksi biofuel, hingga wisata pertanian (seperti Purina Farms).

Biofuel yang dihasilkan dari tanaman pertanian saat ini mendapatkan perhatian masyarakat umum dan kaum akademisi karena isu perubahan iklim yang semakin intens dan peningkatan harga bahan bakar fosil. Di Eropa dan Amerika Serikat, penelitian dan produksi biofuel telah menjadi kewajiban yang diatur oleh undang-undang.

Studi Mengenai Agro Bisnis

Studi agribisnis seringkali datang dari bidang akademik ekonomi pertanian dan manajemen, yang dapat disebut dengan manajemen agribisnis. Untuk meningkatkan pengembangan pada keekonomian bahan pangan, berbagai lembaga pemerintah mendukung penelitian dan publikasi studi keekonomian yang menjelajahi agribisnis dan praktik agribisnis. Federation of International Trade Associations (FITA) adalah salah satu lembaga internasional yang mempublikasikan hasil studi mengenai ekspor bahan pangan antar negara.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top