Pemasaran Getok Tular untuk UKM

marketing-pemasaran-getok-tular-ukm-umkm.jpg

Pemasaran Getok Tular UKM

Pemasaran Getok Tular untuk UKM – Usaha Kecil Menengah (UKM) dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) pada umumnya terbentuk dari masyarakat kalangan ekonomi bawah dan juga berlokasi di pedesaan. Namun ada juga UKM dan UMKM yang dibentuk oleh pihak dengan modal yang berada serta berada di kawasan perkotaan, yang biasanya diadakan untuk sekedar mengisi waktu luang atau membuka lapangan kerja bagi masyarakat di sekitar mereka.

Bebrapa waktu lalu di pedesaan, tentu kondisi fasilitas publik dan sarana-prasarana yang tersedia untuk membentuk dan mengelola usaha belumlah memadai seperti saat ini. Saat ini sudah tersedia telepon, internet, dan sebagainya hampir diseluruh pelosok negeri yang bisa digunakan sebagai sarana promosi atau memasarkan produk. Namun jauh sebelum itu, pemasaran produk dari UKM dan UMKM dilakukan secara manual, bahkan harus menjajakan produk tersebut sampai ke luar kota.

Dengan cara manual itulah produk yang mereka buat dapat dikenal oleh masyarakat luas. Selain itu, adanya pemasaran yang terjadi secara otomatis antara konsumen kepada orang-orang di sekitar mereka, yang dapat mendukung pertambahan konsumen. Dengan memperoleh informasi dari salah satu yang mereka kenal, otomatis orang-orang tersebut akan mengenal produk kita. Gejala semacam itu akan terjadi secara berulang terhadap konsumen-konsumen baru. Jika produk yang dikenalkan kepada khalayak memiliki kualitas baik, maka citra yang tersebar luas juga akan baik. Begitu juga sebaliknya. Sistem marketing dari mulut ke mulut tersebut biasa disebut getok tular.

baca juga : Fungsi Penting Marketing dalam Perusahaan yang Jarang Anda Ketahui

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, arti getok tular adalah ’dari mulut ke mulut’. Misalnya dalam penyebaran berita, ajakan, fitnah, dan sebagainya. Jadi, getok tular adalah istilah (saluran) komunikasi informal. Komunikasi model ini biasanya terjalin dari hubungan antarpribadi secara langsung, sering kali bersemuka, terkadang berahasia, dengan tujuan dan kepentingan yang sama.

Dalam bahasa Jawa, verba getok (atau gethok), nggetok, berarti ’mengetuk’ atau ’memukul’. Sedangkan tularnular, adalah ’menjalar’ atau ’merembet’. Arti harfiah (ng)getok tular, jadinya, mengetuk atau memukul secara menjalar. Seseorang memukul sesuatu, lalu diikuti pemukulan serupa oleh orang yang lain. Ilustrasi yang tepat adalah adanya pemukulan kentongan sebagai tanda bahaya, misalnya peristiwa pencurian (maling) di daerah pedesaan jaman dulu. Umumnya disebut titir, pemukulan kentongan dimulai dari peronda yang pertama kali mendengar peristiwa kemudian dikuti oleh peronda yang lain di gardu-gardu jaga. Maka, titir berfungsi sebagai alarm yang secara berantai menggerakkan penduduk desa untuk menangkap maling.

Istilah getok tular bisa digunakan untuk mewariskan sejarah atau peristiwa di masa lalu yang mana pada saat itu belum ada media untuk mengabadikannya. Dongeng, legenda, mitos, dan semacamnya pada umumnya ditularkan lewat getok tular. Riwayat suatu komunitas kecil pedesaan sering kali tidak diketahui secara pasti karena belum ada data dari masa lalu yang menunjangnya. Sehingga, seperti yang ditulis dalam The Voice of the Past (2000) oleh Paul Thompson, “sangat mengandalkan ‘suara-suara kelampauan’ yang tak terekam”. Sampai di sini istilah getok tular terkesan hanya berkaitan dengan budaya tradisional yang sering dianggap ”primitif”. Namun, istilah forward menandakan ada sarana praktik getok tular dalam komunikasi modern.

Getok tular dalam Baha Inggris dikatakan sebahai word of mouth (WOM) seperti dalam buku Jerry R Wilson, Word of Mouth Marketing (1994). Dari judul tersebut dapat ditangkap bahwa WOM dimanfaatkan untuk pemasaran dan menjadi Word of Mouth Marketing  (WOMM). Disebutkan, WOM merupakan teknik komunikasi pemasaran tercanggih untuk ”mengharumkan atau merusak citra”. Maknanya, jangan abaikan ”ocehan mulut” konsumen karena bisa berakibat menguntungkan atau, sebaliknya, merugikan suatu usaha bisnis. Keluhan atau pujian konsumen lewat surat pembaca di surat kabar terhadap suatu produk atau jasa bisa jadi contoh getok tular model ini.

Rekomendasi pembelian dari orang yang dikenal memberikan kemungkinan yang lebih besar 50 kali lebih banyak ketimbang orang yang tidak dikenal, hal tersebut didasarkan pada survey yang dikeluarkan oleh perusahaan konsultan kenamaan McKinsey baru-baru ini. Hal ini menunjukkan bahwa peran marketing getok tular atau dalam terminology pemasaran sering disebut Word of mouth marketing (WOMM) merupakan salah satu metode berbisnis yang tidak boleh dipandang sebelah mata, utamanya oleh para produsen. Dalam tulisan karya Bughin, Doogan dan Vetvik yang bertajuk A New Way to Measure Word of Mouth Marketing dan dimuat dalam McKinsey Quarterly, mereka menegaskan bahwa “Indeed, word of mouth is the primary factor behind 20 to 50 percent off all purchasing. Its influence is greatest when consumers are buying a product are relatively expensive.”

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top