PROGRAM KREDIT USAHA RAKYAT – KUR

Kredit Usaha Rakyat (KUR) merupakan program yang termasuk dalam Kelompok Program Penanggulangan Kemiskinan Berbasis Pemberdayaan Usaha Ekonomi Mikro dan Kecil (klaster 3).Klaster ini bertujuan untuk meningkatkan akses permodalan dan sumber daya lainnya bagi usaha mikro dan kecil.

  1. Apa yang dimaksud dengan program Kredit Usaha Rakyat (KUR)?
    KUR adalah skema kredit/pembiayaan modal kerja dan atau investasi yang khusus diperuntukkan bagi Usaha Mikro Kecil Menengah dan Koperasi (UMKMK) di bidang usaha produktif dan  layak (feasible), namun mempunyai keterbatasan dalam pemenuhan persyaratan yang ditetapkan Perbankan (belum bankable). KUR merupakan program pemberian kredit/pembiayaan dengan nilai dibawah Rp 500.000.000 dengan pola penjaminan oleh Pemerintah dengan besarnya coverage penjaminan maksimal 80% dari plafon kredit untuk sektor pertanian, kelautan dan perikanan, kehutanan, dan industri kecil, dan 70% dari plafon kredit  untuk sektor lainnya. . Lembaga penjaminnya yang terlibat adalah 2 lembaga penjamin nasional, yaitu PTJamkrindo dan PT Askrindo; dan 2 lembaga penjamin daerah, yaitu PT Penjaminan Kredit Daerah Jawa Timur (Jamkrida Jatim) dan PT. Jamkrida Bali MandaraTerdapat tiga skema KUR yaitu; (1) KUR Mikro dengan plafon sampai dengan Rp 20 Juta dikenakan suku bunga kredit maksimal 22% per tahun, (2) KUR Ritel dengan plafon dari Rp 20 Juta sampai dengan Rp 500 Juta dikenakan suku bunga kredit maksimal 13% per tahun, (3) KUR Linkage dengan plafon sampai dengan Rp 2 milyar. KUR Linkage biasanya menggunakan lembaga lain, seperti Koperasi, BPR, dan Lembaga Keuangan Non-bank, untuk menerus-pinjamkan KUR dari Bank Pelaksana kepada UMKMK
  2. Apa tujuan pelaksanaan program KUR?
    Tujuan program KUR adalah mengakselerasi pengembangan kegiatan perekonomian di sektor riil dalam rangka penanggulangan dan pengentasan kemiskinan serta perluasan kesempatan kerja. Secara lebih rinci, tujuan program KUR adalah sebagai berikut:

    • Mempercepat pengembangan Sektor Riil dan Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, Menengah, danKoperasi (UMKMK)
    • Meningkatkan akses pembiayaan dan mengembangkanUMKM & Koperasi kepada Lembaga Keuangan
    • Sebagai upaya penanggulangan / pengentasan kemiskinandan perluasan kesempatan kerja

  3. Apakah yang dimaksud dengan usaha produktif, usaha layak dan belum bankable?

    1. Usaha Produktif adalah usaha untuk menghasilkan barang atau jasa untukmemberikan nilai tambah dan meningkatkan pendapatan bagi pelaku usaha.
    2. Usaha Layak adalah usaha calon debitur yang menguntungkan/memberikan labasehingga mampu membayar bunga/marjin dan mengembalikan seluruh hutang/kewajiban pokok Kredit/Pembiayaan dalam jangka waktu yang disepakati antara Bank Pelaksana dengan Debitur KUR.
    3. Belum Bankable adalah UMKMK yang belum dapat memenuhi persyaratanperkreditan/ pembiayaan dari Bank, seperti dalam penyediaan agunan.

  4. Siapa saja yang terlibat dalam pelaksanaan program KUR?
    Ada tiga (3) pilar penting dalam pelaksanaan program ini. Pertama adalah pemerintah, yaitu Bank Indonesia (BI) dan Departemen Teknis (Departemen Keuangan, Departemen Pertanian, Departemen Kehutanan, Departemen Kelautan dan Perikanan, Departemen Perindustrian, dan Kementerian Koperasi dan UKM).Pemerintah berfungsi membantu dan mendukung pelaksanaan pemberian berikut penjaminan kredit.Kedua, lembaga penjaminan yang berfungsi sebagai penjamin atas kredit dan pembiayaan yang disalurkan oleh perbankan.Ketiga, perbankan sebagai penerima jaminan berfungsi menyalurkan kredit kepada UMKM dan Koperasi.Bertindak sebagai lembaga penjaminan dalam program ini adalah PT. (Persero) Asuransi Kredit Indonesia (PT. Askrindo) dan Perusahaan Umum Jaminan Kredit Indonesia (Perum Jamkrindo), Jamkrida Jatim dan Jamkrida Bali Mandara. Sedangkan pihak ketiga yaitu Bank Penyalur terdiri dari tujuh (7) Bank Umum dan duapuluh enam (26) Bank Pembangunan Daerah (BPD). Keenam Bank Umum penyalur KUR sampai saat ini adalah Bank BRI, Bank Mandiri, Bank BNI, Bank BTN, Bank Syariah Mandiri dan Bank Bukopin. Adapun 13 BPD penyalur KUR diantaranya adalah: Bank Nagari, Bank DKI, Bank Jatim, Bank Jateng, BPD DIY, Bank Jabar Banten, Bank NTB, Bank Kalbar, Bank Kalteng, Bank Kalsel, Bank Sulut, Bank Maluku dan Bank Papua.Pihak-pihak yang terkait dengan penyaluran KUR di tingkat daerah disesuaikan dengan keberadaan masing-masing bank di daerahnya.Tujuh bank umum selaku penyalur secara umum berlaku di seluruh wilayah Indonesia.Untuk bank pembangunan daerah selaku bank penyalur tergantung daerah masing-masing sesuai dengan tugas penyaluran KUR sebagaimana disebutkan sebelumnya. Koordinasi program KUR secara umum dilakukan oleh TKPK Daerah melalui kelompok program Berbasis Pemberdayaan Usaha Ekonomi Mikro dan Kecil. Di beberapa daerah, keberadaan TKPK Daerah ini didukung oleh Tim Percepatan Penyalur KUR dibawah koordinasi Biro Ekonomi Pemerintah Tingkat I dan II.
  5. Apakah KUR yang telah dijamin oleh perusahaan penjamin tidak perlu dilunasi kreditnya oleh UMKMK?
    Sumber dana penyaluran KUR 100% bersumber dari dana Bank Pelaksana. Pemerintah, melalui perusahaan penjamin hanya  memberikan sebagian penjaminan terhadap Bank Pelaksana atas KUR yang diberikan kepada UMKMK. Perusahaa penjaminan mendapat Imbal Jasa Penjaminan (IJP) yang dibayar pemerintah. Karena itu,  UMKMK wajib melunasi KUR yang diterima dari Bank Pelaksana.

  6. Siapa sasaran program KUR?
    Sasaran program KUR adalah kelompok masyarakat yang telah dilatih dan ditingkatkan keberdayaan serta kemandiriannya pada kluster program sebelumnya.Harapannya agar kelompok masyarakat tersebut mampu untuk memanfaatkan skema pendanaan yang berasal dari lembaga keuangan formal seperti Bank, Koperasi, BPR dan sebagainya.Dilihat dari sisi kelembagaan, maka sasaran KUR adalah UMKMK (Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Koperasi).Sektor usaha yang diperbolehkan untuk memperoleh KUR adalah semua sektor usaha produktif.

  7. Apa yang dimaksud dengan Usaha MIkro, Kecil, Menengah dan Koperasi?
    Yang dimaksud dengan:

    1. Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usahaperorangan yang memenuhi kriteria: memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp.50.000.000,- (tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha) atau memiliki hasilpenjualan tahunan paling banyak Rp. 300.000.000,-
    2. Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari Usaha Menengah atau Usaha Besar. Kriterianya adalah memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp. 50.000.000,- s/d Rp. 500.000.000,- (tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha) atau memilikihasil penjualan tahunan lebih dari Rp. 300.000.000,- s/d Rp. 2.500.000.000,-
    3. Usaha Menengah adalah Usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Besar. Kriterianya adalah: memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp. 500.000.000,-s/d Rp. 10.000.000.000,- ( tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha) atau memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp.2.500.000.000,- s/d Rp. 50.000.000.000,-
    4. Koperasi adalah Badan Usaha yang beranggotakan orang seorang atau badan hukum Koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asaskekeluargaan.

  8. Dimana lokasi pelaksanaan program KUR?
    Program KUR dilaksanakan di seluruh Indonesia.

  9. Bagaimanakah cara UMKMK mendapatkan KUR dari Bank Pelaksana?
    UMKMK dapat mendapatkan KUR dari Bank Pelaksana dengan cara sebagai berikut :

    1. UMKMK mengajukan surat permohonan KUR kepada Bank dengan melampiridokumen seperti legalitas usaha, perizinan usaha, catatan keuangan dansebagainya.
    2. Bank mengevaluasi/analisa kelayakan usaha UMKMK berdasarkan permohonanUMKMK tersebut.
    3. Apabila menurut Bank usaha UMKMK layak maka Bank menyetujui permohonan KUR. Keputusan pemberian KUR sepenuhnya merupakan kewenangan Bank.
    4. Bank dan UMKMK menandatangani Perjanjian Kredit/Pembiayaan.
    5. UMKMK wajib membayar/mengangsur kewajiban pengembalian KUR kepadaBank sampai lunas.

  10. Apa saja yang menjadi persyaratan umum bagi UMKMK untuk dapat menerima KUR? Siapakah yang memberikan putusan mengenai pemberian KUR?
    Persyaratan umum untuk dapat menerima KUR bagi UMKMK adalah:

    1. Tidak sedang menerima kredit/pembiayaan dari perbankan dan/atau yang tidaksedang menerima Kredit Program dari Pemerintah;
    2. Diperbolehkan sedang menerima kredit konsumtif (Kredit Kepemilikan Rumah, KreditKendaraan Bermotor, Kartu Kredit dan kredit konsumtif lainnya);
    3. Bagi UMKMK yang masih tercatat Sistem Informasi Debitur BI, tetapi yang sudahmelunasi pinjaman, maka diperlukan Surat Keterangan Lunas dari Bank sebelumnya;
    4. untuk KUR Mikro, tidak diwajibkan untuk dilakukan pengecekan Sistem InformasiDebitur Bank Indonesia.Putusan pemberian KUR sepenuhnya menjadi kewenangan Bank Pelaksana, sesuai dengan hasil analisa kelayakan usha calon debitur.

  11. Apa saja yang menjadi persyaratan umum bagi UMKMK untuk dapat menerima KUR?
    Dokumen legalitas dan perizinan yang minimal ada pada saat debitur mengajukanKUR kepada Bank antara lain:

    1. Identitas diri nasabah, seperti KTP, SIM, Kartu Keluarga, dll.
    2. Legalitas usaha, seperti akta pendirian, akta perubahan
    3. Perzinan usaha, seperti SIU, TDP, SK Domisili, dll
    4. Catatan pembukuan atau laporan keuangan
    5. Salinan bukti agunan

  12. Apakah debitur yang sudah pernah mendapatkan dan melunasi KUR boleh mengajukan KUR kembali?
    Debitur KUR yang sudah mendapatkan dan melunasi KUR diperbolehkan untuk mengajukan KUR kembali sepanjang masih belum bankable.

  13. Bagaimana mekanisme pelaksanaan program KUR?
    Mekanisme pelaksanaan KUR dapat digambarkan dalam skema berikut ini:

    1. Pemerintah melakukan Penyertaan Modal Negara (PMN) kepada perusahaan penjamin kredit
    2. Pemerintah membayar Imbal Jasa (IJP) sebesar 3,25% per tahun dari outstanding KUR
    3. MoU antara Pemerintah, Bank Pelaksana dan Perusahaan Penjamin yang mengatur  mekanisme KUR serta hak dan kewajiban masing-masing pihak.
    4. Bank menyalurkan KUR. Dana yang disalurkan sebagai KUR, 100% merupakan dana komersil bank.
    5. Penerima KUR wajib memenuhi kewajiban pembayaran bunga dan cicilan pokok kepada bank.
    6. Bank pelaksana mengajukan Daftar Nominatif Penerima KUR
    7. PPK menerbitkan Sertifikat Penjamin (SP) dengan penjaminan sesuai dengan yang ditetapkan dalam SOP KUR
    8. Bank Pelaksana mengajukan  klaim penjamin untuk kredit dengan kolektabilitas 4 dan 5.
    9. Perusahaan Penjamin Kredit membayar klaim yang diajukan setelah melakukan verifikasi.
  14. Bagaimana mekanisme penyaluran KUR?
    Mekanisme penyaluran KUR terdiri dari:

    1. Langsung dari Bank Pelaksana ke UMKMK
    2. Tidak langsung, melalui lembaga linkage dengan pola executing
    3. Tidak langsung, melalui lembaga linkage dengan pola channeling Skema penyaluran KUR yang dilakukan secara langsung ke UMKMK adalah sebagai berikut:
      penyaluran-kredit-usaha-rakyat-kur

      Penyaluran kredit usaha rakyat kur

       

      mekanisme-penyaluran-kredit-kur
      Keterangan:

      a = Bank melakukan penilaian secara individu terhadap calon debitur KUR. Apabila dinilai layak dan disetujui oleh Bank Pelaksana, maka Debitur KUR menandatangani Perjanjian Kredit

      b = Bank mengajukan permohonan penjaminan kepada Perusahaan Penjamin

      Skema penyaluran KUR yang dilakukan secara tidak langsung melalui lembaga linkage dengan pola executing adalah sebagai berikut:

      Skema Penyaluran KUR

      Keterangan:

      a = Lembaga linkage mengajukan permohonan Kredit/Pembiayaan kepada Bank Pelaksana

      b = Bank Pelaksana melakukan pengecekan Sistem Informasi Debitur dan analisakelayakan. Apabila dinyatakan layak dan disetujui, maka Bank Pelaksanamenandatangani Perjanjian Kredit/Pembiayaan dengan Lembaga Linkage.

      c =  Bank Pelaksana mengajukan permintaan penjaminan kredit/pembiayaan kepadaPerusahaan Penjamin.

      d = Lembaga Linkage menyalurkan kredit/pembiayaan yang diterima dari BankPelaksana kepada debitur UMKMK dari Lembaga Linkage.

      e =  Debitur UMKMK melakukan pembayaran kewajiban kredit/pembiayaan kepadaLembaga Linkage.

      f =  Lembaga Linkage bertanggungjawab terhadap pelunasan KUR kepada BankPelaksana.

      Skema penyaluran KUR yang dilakukan secara tidak langsung melalui lembaga linkage dengan pola channeling adalah sebagai berikut:

      Skema Penyaluran KUR

      Keterangan:

      a =  Untuk mendapatkan kredit/pembiayaan dari Bank Pelaksana, UMKMKmemberikan kuasa kepada pengurus Lembaga Linkage untuk mengajukan kreditdan menjaminkan agunan kepada Bank Pelaksana;

      b = Lembaga Linkage mewakili UMKMK mengajukan permohonan kredit kepadaBank Pelaksana.

      c =  Bank Pelaksana melakukan pengecekan Sistem Informasi Debitur dan analisakelayakan. Apabila layak dan disetujuimaka Bank Pelaksana:

      1. Berdasarkan kuasa dari Bank Pelaksana, maka Lembaga Linkagemenandatangani Perjanjian Kredit/Pembiayaan dengan UMKMK atau
      2. Berdasarkan kuasa dari UMKMK, maka Lembaga Linkage menandatanganiPerjanjian Kredit/Pembiayaan dengan Bank Pelaksana.

      d = Bank mengajukan permohonan penjaminan kepada perusahaan penjamin.

      e =  Lembaga Linkage menerus pinjamkan kredit/pembiayaan yang diterima dariBank Pelaksana kepada debitur UMKMK. Debitur UMKMK melakukanpembayaran kewajiban kredit/pembiayaan kepada Bank Pelaksana melaluiLembaga Linkage.UMKMK bertanggung jawab melunasi KUR kepada BankPelaksana.

  15. Lembaga apa saja yang termasuk sebagai lembaga linkage?
    Lembaga Linkage yaitu Koperasi Sekunder, Koperasi Primer (Koperasi Simpan Pinjam, Unit Simpan Pinjam Koperasi), Badan Kredit Desa (BKD), Baitul Mal Wa Tanwil(BMT), Bank Perkreditan Rakyat/Syariah (BPR/BPRS), Lembaga Keuangan Non Bank,Kelompok Usaha, Lembaga Keuangan Mikro

  16. Apa ketentuan penyaluran KUR kepada lembaga linkage pada pola executing?
    Ketentuan penyaluran KUR kepada lembaga linkage dengan pola executing adalah sebagai berikut:

    1. Lembaga Linkage tersebut diperbolehkan sedang memperoleh Kredit/ Pembiayaandari perbankan.
    2. Lembaga Linkage tersebut tidak sedang memperoleh Kredit Program Pemerintah.
    3. Plafon KUR yang dapat diberikan oleh Bank Pelaksana kepada Lembaga Linkagemaksimal sebesar Rp. 1.000.000.000,- dengan jangka waktu sesuai ketentuanKUR.
    4. Suku bunga KUR dari Bank Pelaksana kepada Lembaga Linkage maksimal sebesar14 % efektif pertahun.
    5. Suku bunga dan plafon kredit/pembiayaan dari Lembaga Linkage kepada UMKMKditetapkan maksimal sebesar 22% efektif per tahun dan maksimal Rp 100 juta perdebitur.
    6. Lembaga Linkage bertanggung jawab atas pengembalian KUR yang diterima dariBank Pelaksana.
    7. KUR yang dijamin oleh Perusahaan Penjamin adalah KUR yang diterima olehLembaga Linkage yang masih termasuk dalam kriteria terjamin sesuai denganperjanjian kerjasama Bank Pelaksana dengan Perusahaan Penjamin.

  17. Apa ketentuan penyaluran KUR kepada lembaga linkage pada pola channeling?
    Ketentuan penyaluran KUR kepada lembaga linkage dengan pola channeling adalah sebagai berikut:

    1. Lembaga Linkage diperbolehkan sedang memperoleh Kredit/Pembiayaan dariperbankan maupun Kredit Program Pemerintah.
    2. Jumlah KUR yang disalurkan oleh Bank Pelaksana adalah sesuai dengan daftarnominatif calon debitur yang diajukan oleh Lembaga Linkage.
    3. Plafon, suku bunga dan jangka waktu KUR melalui Lembaga Linkage kepadadebitur mengikuti ketentuan KUR Retail dan KUR Mikro.
    4. Atas penyaluran KUR tersebut, Lembaga Linkage berhak memperoleh fee dari BankPelaksana yang besarnya ditentukan berdasarkan kesepakatan dengan BankPelaksana.
    5. Debitur KUR bertanggung-jawab atas pengembalian KUR.
    6. Jumlah kredit yang dijamin oleh Perusahaan Penjamin adalah sesuai dengan yangditerima oleh Debitur KUR.

  18. Berapakah besarnya dana pinjaman (plafon) KUR yang dapat diperoleh UMKMK?
    Plafon KUR yang dapat diperoleh UMKMK yaitu:

    1. KUR Mikro: KUR yang diberikan dengan plafon sampai dengan Rp. 5.000.000,00 (lima juta rupiah).
    2. KUR Ritel: KUR yang diberikan dengan plafon diatas Rp. 5.000.000,00 (lima juta rupiah) sampai dengan Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)

  19. Berapa jangka waktu yang dapat diberikan atas fasilitas KUR yang diterima debitur? Apakah KUR yang sudah eksis itu dapat diperpanjang atau diberikan tambahan plafon pinjaman?
    Kepada debitur KUR dapat diberikan jangka waktu fasilitas KUR maksimal selama 3tahun untuk modal kerja dan maksimal lima (5) tahun untuk investasi. Pemberian penambahan plafon dapat dilakukan tanpa menunggu pinjaman dilunasi, dengan ketentuan sebagai berikut:

    1. Debitur yang bersangkutan masih belum dapat dikategorikan bankable.
    2. Total pinjaman setelah penambahan tidak melebihi Rp 5.000.000,- untuk KURMikro atau tidak melebihi sebesar Rp 500.000.000,- (untuk KUR Ritel atau tidakmelebihi Rp.1.000.000.000 untuk KUR yang diberikan kepada Lembaga Linkage dengan pola executing.
    3. Ketentuan lainnya, sesuai dengan ketentuan KUR Mikro atau KUR Ritel atau KURmelalui Lembaga Linkage.

  20. Berapakah besarnya suku bunga KUR?
    Suku bunga KUR Mikro maksimal sebesar atau setara 22% efektif per tahun dan suku bunga KUR Ritel maksimal sebesar atau setara 13% efektif per tahun.

  21. Berapakah besarnya suku bunga KUR?
    UMKMK tetap menyerahkan agunan kepada Bank berupa:

    1. Agunan Pokok yaitu kelayakan usaha dan obyek yang dibiayai.
    2. Agunan Tambahan sesuai dengan ketentuan pada Bank Pelaksana, misalnya sertifikat tanah, BPKB mobil, dan lain sebagainya.

  22. Apa saja yang menjadi kewajiban debitur KUR dan apa konsekuensi jika UMKMK tidak memenuhi kewajiban KUR?
    Debitur KUR memiliki kewajiban sebagai berikut:

    1. Memenuhi persyaratan KUR yang ada pada Bank Pelaksana
    2. Menyerahkan agunan kepada Bank
    3. Membayar kewajiban (pokok pinjaman dan bunga) atas KUR yang diterima sesuai repayment yang disepakati dengan Bank sampai kredit lunas.
    4. Apabila debitur UMKMK tidak melunasi kewajiban KUR, maka:
      1. Bank pelaksana akan melakukan penjualan agunan dan apabila nilai penjualan agunan masih tidak mencukup maka debitur masih wajib melunasi KUR.
      2. Terdaftar sebagai debitur blacklist Bank Indonesia.
    1. Apa saja peranan kementerian teknis dalam penyaluran KUR dan langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan oleh kementerian teknis untuk mewujudkan peranan itu?
      Kementerian Teknis mempunyai peranan dalam penyaluran KUR sebagai berikut:

      1. Mempersiapkan UMKMK yang melakukan usaha produktif yang bersifat individu,kelompok, kemitraan dan /atau cluster yang dapat dibiayai dengan KUR;
      2. Menetapkan kebijakan dan prioritas bidang usaha yang akan menerimapenjaminan KUR;
      3. Melakukan pembinaan dan pendampingan UMKMK selama masa kredit/pembiayaan atau ketika usulan kredit/ pembiayaan UMKMK ditolak oleh Bank Pelaksana;
      4. Memfasilitasi hubungan antara UMKMK dengan pihak lainnya seperti perusahaaninti/offtaker yang memberikan kontribusi dan dukungan untuk kelancaran usaha.
      5. Langkah-langkah yang harus dilakukan yaitu:
        1. Menyiapkan rencana kerja pendukung pelaksanaan KUR (penyiapan calon debiturKUR, pembinaan dan pendampingan selama masa kredit/pembiayaan, sertapenyediaan fasilitasi dengan pihak lain, khususnya Pemerintah Daerah, yangmendukung kelancaran UMKMK;
        2. Memasukkan rencana kerja pendukung pelaksanaan KUR sesuai tupoksinya dalamrancangan Rencana Kerja Kementerian/Lembaga (Renja K/L) masing-masing, danmengusulkan penganggarannya;
        3. Pengaturan lebih lanjut mengenai kegiatan perencanaan terkait pelaksanaan KURdapat dirumuskan dalam SOP tersendiri oleh Kementerian.

    2. Apakah UMKMK yang merupakan binaan atau rekomendasi dari kementerian teknis dapat langsung disetujui permohonan KUR-nya?
      Apabila menurut Bank Pelaksana UMKMK tersebut dinyatakan layak dan memenuhi ketentuan dan persyaratan KUR, maka kepada UMKMK tersebut dapat diberikan KUR.

    3.  Apakah KUR itu merupakan hibah pemerintah kepada masyarakat? Dari manakah sumber dananya?
      KUR BUKAN merupakah hibah pemerintah kepada masyarakat. Sesuai dengan pengertian KUR sebelumnya disebutkan bahwa KUR adalah kredit/pembiayaan kepada UMKMK (Usaha MIkro, Kecil, Menengah dan Koperasi), sehingga UMKMK wajib mengembalikan dana pinjaman KUR tersebut kepada Bank pemberi KUR. Perlu dipahami bahwa uang KUR bukanlah dana dari pemerintah melainkan dana dari pihak perbankan, sehingga disalurkan melalui mekanisme perbankan dan juga harus dikembalikan sesuai ketentuan dari pihak perbankan.Sumber dana penyaluran KUR adalah 100% (seratus persen) bersumber dari danaBank Pelaksana yang dihimpun dari dana masyarakat berupa giro, tabungan dan deposito.

    4. Apakah manfaat KUR?
      Bagi UMKMK, manfaat KUR adalah membantu pembiayaan yang dibutuhkan untuk mengembangkan usahanya. Sementara bagi pemerintah, manfaat KUR adalah tercapainya percepatan pengembangan sektor riil dan pemberdayaan UMKMK dalam rangka penanggulangan/pengentasan kemiskinan dan perluasan kesempatan kerja serta pertumbuhan ekonomi.

    5. Bagaimana pengawasan pelaksanaan KUR?
      Pemerintah melalui BPKP akan melakukan pengawasan yang bersifat preventif danmelakukan verifikasi secara selektif dan Bank Indonesia akan mengawasi Bank Pelaksana dalam kapasitas sebagai pengawas bank.

  23. Apa saja tantangan umum dalam pelaksanaan Program KUR saat ini?
    Tantangan yang umumnya dihadapi dalam penyelenggaraan program KUR adalah:

    1. Masih terdapat ruang untuk meningkatkan penyerapan kredit oleh UMKMK. Sebagai contoh, penyerapan KUR hingga Desember 2010 misalnya, masih dapat ditingkatkan. Dari total plaon KUR sebesar Rp. 17,23 Triliun, baru sekitar 46,7% atau sekitar 8,05 trliun yang terserap. Total debitur yang memperoleh KUR adalah 1.437.650 unit usaha. Meskipun angka-angka ini membaik pada tahun 2011, akan tetapi hal ini masih tetap menjadi tantangan dalam pelaksanaan program KUR.
    2. Masih terdapat ruang untuk meningkatkan penyaluran kredit ke berbagai sektor yang potensial. Sektor-sektor potensial seperti sektor pertanian dan industri pengolahan merupakan sektor-sektor yang berpotensi untuk peningkatan penyaluran kredit. Selama ini yang dominan dalam memperoleh alokasi pembiayaan ialah sektor perdagangan, hotel dan restoran.
    3. Meningkatkan peran TKPKD dalam melakukan koordinasi dan pengendalian program penanggulangan kemiskinan menjadi sangat penting, mengingat pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan melibatkan beberapa K/L terkait.

 


 

Kredit Usaha Rakyat KUR untuk UKM

Dengan adanya program Kredit Usaha Rakyat KUR untuk UKM, masyarakat yang memiliki usaha produktif bisa dengan mudah mendapatkan modal usaha. Yuk, kenal lebih dekat apa itu Kredit Usaha Rakyat.

Ketika hendak memulai sebuah usaha, hampir setiap orang kerap terbentur masalah modal. Bukan hanya karena belum memiliki banyak uang, tapi juga sulit untuk meminjam dana dari bank karena belum memiliki kredibilitas yang cukup.

Namun, Anda tak perlu khawatir. Anda bisa dengan mudah mendapatkan modal usaha melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Kredit Usaha Rakyat adalah kredit/pembiayaan bagi Usaha Mikro Kecil Menengah dan Koperasi (UMKMK) di bidang usaha produktif yang usahanya layak (feasible), namun mempunyai keterbatasan dalam pemenuhan persyaratan yang ditetapkan perbankan (belum bankable).

Lantas, apa yang dimaksud dengan usaha produktif, usaha layak, dan belum bankable? Berikut adalah pemaparannya.

  1. Usaha produktif adalah usaha menghasilkan barang atau jasa untuk memberikan nilai tambah dan meningkatkan pendapatan bagi pelaku usaha.
  2. Usaha layak adalah usaha calon debitur yang menguntungkan atau memberikan laba. Sehingga mampu membayar bunga atau marjin, serta mengembalikan seluruh utang atau kewajiban pokok kredit dalam jangka waktu yang disepakati antara bank pelaksana dengan debitur Kredit Usaha Rakyat.
  3. Belum bankable adalah UMKMK yang belum dapat memenuhi persyaratan perkreditan atau pembiayaan dari bank.

Untuk suku bunga Kredit Usaha Rakyat, mulai 4 Januari 2016 lalu, pemerintah telah menetapkan sebesar 9%, dari sebelumnya 12%. Kebijakan ini dilakukan untuk mendorong pengembangan sektor UMKMK.
Sasaran Program Kredit Usaha Rakyat

Dilihat dari sisi kelembagaan, maka sasaran program Kredit Usaha Rakyat adalah Usaha Mikro Kecil Menengah dan Koperasi (UMKMK). Sektor usaha yang diperbolehkan untuk memperoleh KUR adalah semua sektor usaha produktif. Berikut adalah penjabarannya.

Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria yaitu memiliki kekayaan bersih maksimal Rp 50 juta (tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha) atau memiliki hasil penjualan tahunan maksimal Rp 300 juta.

Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif berdiri sendiri. Dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari Usaha Menengah atau Usaha Besar.

Kriterianya adalah memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp 50 juta hingga Rp 500 juta (tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha) atau memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp 300 juta hingga Rp 2,5 miliar.

Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif berdiri sendiri. Dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Besar.

Kriterianya adalah memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp 500 juta hingga Rp 10 miliar (tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha) atau memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp 2,5 miliar hingga Rp 50 miliar.)

Koperasi adalah badan usaha beranggotakan seorang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi, sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat berdasar atas asas kekeluargaan.

Baca juga: Selain Modal, Ini yang Harus Disiapkan Calon Pengusaha
Bagaimana Cara Mendapatkan Kredit Usaha Rakyat?

Bagi para pelaku UMKMK, bisa mendapatkan Kredit Usaha Rakyat dari bank pelaksana dengan cara sebagai berikut.

UMKMK mengajukan surat permohonan Kredit Usaha Rakyat kepada bank dengan melampirkan dokumen seperti legalitas usaha, perizinan usaha, catatan keuangan, dan sebagainya.
Bank mengevaluasi/analisa kelayakan usaha UMKMK berdasarkan permohonan UMKMK tersebut.
Apabila pelaku UMKMK layak menurut bank, maka bank menyetujui permohonan Kredit Usaha Rakyat. Keputusan pemberian Kredit Usaha Rakyat sepenuhnya merupakan kewenangan bank.
Bank dan UMKMK menandatangani perjanjian kredit/pembiayaan.
Pelaku UMKMK wajib membayar/mengangsur kewajiban pengembalian Kredit Usaha Rakyat kepada bank sampai lunas.

Persyaratan Umum untuk Mendapatkan Kredit Usaha Rakyat

Untuk mendapatkan Kredit Usaha Rakyat, persyaratan umum yang harus dipenuhi oleh pelaku UMKMK adalah sebagai berikut.

Tidak sedang menerima kredit/pembiayaan dari perbankan dan/atau tidak sedang menerima kredit program dari pemerintah.
Diperbolehkan sedang menerima kredit konsumtif (kredit pemilikan rumah, kredit kendaraan bermotor, kartu kredit, dan kredit konsumtif lainnya).
Bagi pelaku UMKMK yang masih tercatat dalam Sistem Informasi Debitur BI, tetapi sudah melunasi pinjaman, maka diperlukan Surat Keterangan Lunas dari bank sebelumnya.
Untuk Kredit Usaha Rakyat Mikro, tidak diwajibkan untuk melakukan pengecekan Sistem Informasi Debitur BI.

Putusan pemberian Kredit Usaha Rakyat sepenuhnya menjadi kewenangan bank pelaksana, sesuai dengan hasil analisa kelayakan usaha calon debitur. Sedangkan jumlah dana pinjaman dari Kredit Usaha Rakyat yang dapat diperoleh pelaku UMKMK yaitu:

-Kredit Usaha Rakyat Mikro, plafon sampai dengan Rp 5 juta.

-Kredit Usaha Rakyat Ritel, plafon diatas Rp 5 juta sampai dengan Rp 500 juta.
Dokumen yang Perlu Dilampirkan

Saat debitur mengajukan Kredit Usaha Rakyat kepada bank, ada beberapa dokumen legalitas dan perizinan yang perlu dilampirkan, antara lain:

identitas diri nasabah, seperti KTP, SIM, Kartu Keluarga;
legalitas usaha, seperti akta pendirian, akta perubahan;
perizinan usaha, seperti NPWP, SIUP, TDP, SKDU, dan lain-lain;
catatan pembukuan atau laporan keuangan;
salinan bukti agunan.

Bagi pelaku UMKMK, Kredit Usaha Rakyat tentu sangat membantu dalam pembiayaan yang dibutuhkan untuk mengembangkan usaha.

Sementara bagi pemerintah, Kredit Usaha Rakyat bisa membantu percepatan pengembangan sektor riil, pemberdayaan UMKMK dalam rangka penanggulangan/pengentasan kemiskinan, dan perluasan kesempatan kerja serta pertumbuhan ekonomi.


Kredit Usaha Rakyat KUR BANK BRI

Pembiayaan KUR BANK BRI

  • Kredit Usaha Rakyat (KUR) BANK BRI terdiri dari KUR Mikro, KUR Ritel, dan KUR TKI
  • KUR Mikro BANK BRI adalah Kredit Modal Kerja dan atau Investasi dengan plafond s.d Rp 25 juta per debitur
  • KUR Ritel BANK BRI adalah Kredit Modal Kerja dan atau Investasi kepada debitur yang memiliki usaha produktif dan layak dengan plafond > Rp 25 juta s.d Rp 500 juta per debitur
  • KUR TKI BANK BRI diberikan untuk membiayai keberangkatan calon TKI ke negara penempatan dengan plafond s.d Rp 25 juta
  • KUR BANK BRI diberikan kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah dengan usaha produktif dan layak
  • Sektor usaha yang dibiayai sesuai dengan ketentuan pemerintah
  • KUR BANK BRI dapat dilayani di seluruh Unit Kerja BANK BRI yang tersebar di seluruh Indonesia

Syarat Calon Debitur

KUR Mikro BANK BRI

  • Individu (perorangan) yang melakukan usaha produktif dan layak
  • Telah melakukan usaha secara aktif minimal 6 bulan
  • Tidak sedang menerima kredit dari perbankan kecuali kredit konsumtif seperti KPR, KKB, dan, Kartu Kredit
  • Persyaratan administrasi

Identitas berupa KTP, Kartu Keluarga (KK), dan surat ijin usaha

KUR Ritel BANK BRI

  • Mempunyai usaha produktif dan layak
  • Tidak sedang menerima kredit dari perbankan kecuali kredit konsumtif seperti KPR, KKB, dan, Kartu Kredit
  • Telah melakukan usaha secara aktif minimal 6 bulan
  • Memiliki Surat Ijin Usaha Mikro dan Kecil (IUMK) atau surat ijin usaha lainnya yang dapat dipersamakan

KUR TKI BANK BRI

Individu (perorangan) calon TKI yang akan berangkat bekerja ke negara penempatan.

Persyaratan administrasi:

  1. Identitas berupa KTP dan Kartu Keluarga
  2. Perjanjian kerja dengan pengguna jasa
  3. Perjanjian penempatan
  4. Passpor
  5. Visa
  6. Persyaratan lainnya sesuai ketentuan

Ketentuan dan Syarat Kredit

KUR Mikro BANK BRI

  • Besar kredit

Maksimal sebesar Rp 25 juta per debitur

  • Jenis kredit
    • Kredit Modal Kerja (KMK) jangka waktu maksimal 3 (tiga) tahun
    • Kredit Investasi (KI) jangka waktu maksimal 5 (lima) tahun
  • Suku bunga

Suku bunga 9% efektif per tahun atau setara 0.41% flat per bulan

  • Tidak dipungut biaya provisi dan administrasi

KUR Ritel BANK BRI

  • Besar kredit

> Rp 25 juta – Rp 500 juta

  • Jenis kredit
    • Kredit Modal Kerja (KMK) jangka waktu maksimal 4 (empat) tahun
    • Kredit Investasi (KI) jangka waktu maksimal 5 (lima) tahun
  • Suku bunga

Suku bunga 9% efektif per tahun

  • Tidak dipungut biaya provisi dan administrasi
  • Agunan sesuai ketentuan bank

KUR TKI BANK BRI

  • Besar kredit

Maksimal Rp 25 juta atau sesuai Cost Structure yang ditetapkan pemerintah

  • Suku bunga

Suku bunga 9% efektif per tahun atau setara 0.41% flat per bulan

  • Tidak dipungut biaya provisi dan administrasi
  • Jangka waktu maksimal 3 (tiga) tahun atau sesuai kontrak kerja
  • Tujuan negara penempatan

Singapura, Hongkong, Taiwan, Brunei, Jepang, Korea Selatan, dan Malaysia


Kredit Usaha Rakyat (KUR) BANK MANDIRI

Adalah Kredit untuk pembiayaan usaha produktif segment mikro, kecil, menengah, dan koperasi yang layak / feasible namun belum bankable untuk modal kerja dan/atau kredit investasi melalui pola pembiayaan secara langsung maupun tidak langsung (linkage) yang dijamin oleh Lembaga Penjamin Kredit dengan kriteria sebagai berikut:

  • Tidak sedang menerima kredit dari perbankan/kredit program dari pemerintah
  • UMKMK yang sedang menerima kredit konsumtif dari perbankan : Kredit Pemilikan Rumah, Kredit Kendaraan Bermotor, Kartu Kredit, dan Kredit Konsumtif lainnya diperbolehkan menerima KUR

Fitur kredit :

  • Limit kredit :
    1. KUR langsung (individu) maksimal Rp. 500 Juta
    2. KUR tidak langsung
        • Pola Excuting

      Maksimal Rp. 2 Milyar per lembaga Linkage dan maksimal Rp. 100 Juta per end user

        • Pola Channeling

      Sesuai daftar nominatif end user dengan limit kredit per end user s/d Rp. 500 Juta

  • Jenis Kredit : investasi dan atau modal kerja
  • Jangka waktu kredit :
    1. KMK maksimal 3 tahun dan dapat diperpanjang menjadi 6 tahun
    2. KI maksimal 5 tahun dan dapat diperpanjang menjadi 10 tahun
    3. KI perkebunan tanaman keras maksimal 13 tahun dan tidak dapat diperpanjang

Persyaratan :

  • Dokumen legalitas pemohon, misalnya : KTP, Kartu Keluarga
  • Dokumen legalitas usaha, misalnya : NPWP, SIUP, SKDU
  • Fotocopy rekening giro/tabungan 6 bulan terakhir

 

Kredit Usaha Rakyat (KUR) BANK BNI

BNI dapat memberikan pembiayaan kepada usaha Anda yang feasible namun belum memiliki agunan sesuai persyaratan Bank.
Solusinya adalah dengan Kredit Usaha Rakyat yang dapat diberikan kepada calon debitur Usaha Mikro, Kecil, Menengah, Anggota keluarga dari karyawan/karyawati yang berpenghasilan tetap atau bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dan TKI yang purna dari bekerja di luar negeri.
Kemudahan :
Proses kredit lebih sederhana / cepat.
Dapat digunakan untuk menambah modal kerja usaha dan kredit investasi.
Jangka waktu pengembalian hingga 5 (lima) tahun.
Jaringan BNI tersebar di seluruh Indonesia
KUR MIKRO
Maksimum : sampai dengan Rp. 25.000.000,-
Jangka waktu : s/d 3 tahun (kredit modal kerja), s/d 4 tahun (kredit investasi)
Persyaratan administrasi : KTP, Kartu Keluarga, Surat ijin usaha
Jaminan : tidak diwajibkan
Suku bunga : 9% eff p.a
KUR RITEL
Maksimum : > Rp. 25.000.000,- s/d Rp. 500.000.000,-
Jangka waktu : s/d 4 tahun (kredit modal kerja), s/d 5 tahun (kredit investasi)
Persyaratan administrasi : KTP, NPWP (untuk KUR > Rp. 50 juta), Kartu Keluarga, Surat Keterangan Usaha dari Kelurahan/Kecamatan
Jaminan : disesuaikan dengan ketentuan BNI
Suku bunga : 9% eff p.a
KUR TKI
Maksimum : sampai dengan Rp. 25.000.000,-
Jangka waktu : disesuaikan dengan masa kontrak kerja maksimal 3 tahun
Persyaratan administrasi : KTP, Kartu Keluarga, Surat ijin usaha
Jaminan : tidak diwajibkan
Tujuan negara penempatan : Singapura, Malaysia, Hongkong, Taiwan, Korea Selatan, Jepang
Suku bunga : 9% eff p.a
KUR LINKAGE
KUR Linkage Executing
KUR yang diberikan oleh BNI kepada Lembaga Keuangan (Bank Perkreditan Rakyat & Koperasi Simpan Pinjam) untuk diteruspinjamkan kepada end user guna mengembangkan usahanya.
KUR Linkage Channeling
Lembaga Keuangan (Bank Perkreditan Rakyat & Koperasi Simpan Pinjam) berfungsi sebagai agen dari end user yang mengajukan KUR kepada BNI selaku penyalur KUR.
Keunggukan BNI KUR Linkage :
Sumber pendanaan 100% dari BNI.
Lembaga linkage mendapat manfaat dari subsidi bunga.
Turut mendukung program pemerintah mengembangkan sektor riil dan UMKM.
Lembaga linkage tidak perlu membangun infrastruktur sistem online untuk KUR.
Ketentuan umum KUR Linkage Executing * :
Maksimum plafon KUR disesuaikan dengan kebutuhan lembaga keuangan.
BPR dan KSP menggunakan sistem konvensional.
Telah beroperasi minimal 3 tahun dengan 2 tahun terakhir laba positif.
NPL gross disesuaikan dengan ketentuan BNI.
Kredibilitas lembaga keuangan dan direksi/komisaris, pengawas/pengurus dinilai baik.
Jaminan tambahan untuk lembaga linkage disesuaikan dengan ketentuan BNI.
Suku bunga kepada lembaga linkage dan end user sebesar 9% eff p.a.
Margin lembaga linkage dialokasikan dari bagian subsidi bunga yang dibayarkan oleh pemerintah.
Ketentuan umum KUR Linkage Channeling * :
Jumlah KUR yang diberikan melalui lembaga linkage disesuaikan dengan kemampuan dan SDM lembaga linkage.
BPR dan KSP menggunakan sistem konvensional.
Kredibilitas lembaga keuangan dan direksi/komisaris, pengawas/pengurus dinilai baik.
Suku bunga kepada end user 9% eff p.a.
Fee kepada lembaga linkage dialikasikan dari bagian subsidi bunga yang dibayarkan oleh pemerintah.
Persyaratan Umum KUR Mikro & Ritel * :
Tidak sedang menerima fasilitas kredit usaha/produktif dari perbankan lain dan atau tidak sedang menerima Kredit Program dari Pemerintah (kecuali KUR).
Dapat sedang menerima kredit KUR dan/atau kredit konsumtif (KPR, leasing kendaraan, kartu kredit) dengan kolektibilitas lancar.
Pengalaman di bidang usaha minimal 6 (enam) bulan.
Berusia minimal 21 tahun atau sudah menikah.
Tidak termasuk dalam daftar hitam Bank Indonesia serta tidak tercatat sebagai debitur macet/bermasalah.
Untuk keterangan lebih lanjut mengenai produk-produk kami,  Anda dapat menghubungi BNI Call 1500046 / 68888 melalui ponsel Anda
* Data/persyaratan lainnya sesuai kebutuhan proses kredit


Menyediakan Informasi Peluang Bisnis, Peluang Usaha, Usaha Kecil Menengah, Bisnis Waralaba, Promosi Bisnis UMKM. Potensi Bisnis Usaha kecil menengah (UKM) merupakan motor penggerak perekonomian di Indonesia. BisnisUKM.id media Bisnis Online di harapkan menjadi wahana sumber informasi terbaru pelaku bisnis UKM. Informasi Periklanan & Review Hub: info@bisnisukm.id

We will be happy to hear your thoughts

Leave a reply